Tipologi Rumah Tradisional Jawa

Tipologi rumah atau tempat tinggal yang sering disebut “omah”, yang dimaksudkan adalah tempat bernaung bagi masyarakat di pulau jawa. Kehidupan orang jawa mencakup 3 syarat ungkapan pengertian hidup yaitu guna mencukupi kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi, karena hal tersebut sebagai syarat untuk memenuhi kehidupan yang sejahtera, sebab jikalau sudah memiliki rumah tinggal sendiri maka mereka tidak akan menyewa tempat bernaung atau sering disebut “ngindhung”. Bentukan sederhana adalah ungkapan kehidupan sederhana masyarakat jawa. Hal tersebut dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan berbentuk persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang jawa. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan penambahan-penambahan ruang pada sisi-sisi bagian bangunannya, tetapi tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.
Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa, dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasari sebagai bentuk rumah tinggal. Yaitu Rumah tradisional bentuk “Panggangpe”, bentuk “Kampung”, bentuk “Limasan” dan bentuk “Joglo”. Rumah tradisional bentuk “Tajug” tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah ibadah. Sebenarnya kategori bentuk di atas di pisahkan berdasarkan bentukan atap yang berbeda-beda.
Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.
Neraca. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budaya, misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat, bentuk rumah dan lain-lain.
Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya
Tipologi rumah atau tempat tinggal yang sering disebut “omah”, dimaksudkan adalah tempat bernaung bagi masyarakat di pulau Jawa. Kehidupan orang Jawa mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup, yaitu mencukupi kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi, sebab hal tersebut sebagai syarat untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Jika sudah memiliki rumah tinggal sendiri, maka mereka tidak akan menyewa tempat bernaung atau sering disebut “ngindhung”.
Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup masyarakat Jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk persegi, yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang Jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang Jawa. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya, mengalami perubahan dengan adanya penambahan-penambahan ruang pada sisi bagian bangunannya, dan tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.
Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasarinya sebagai bentuk rumah tinggal. Yaitu rumah tradisional bentuk “Panggangpe”, bentuk “Kampung”, bentuk “Limasan” dan bentuk “Joglo”. Rumah tradisional bentuk “Tajug” tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah ibadah. Sebenarnya kategori bentuk di atas di pisahkan berdasarkan perbedaan bentukan atap yang dijabarkan seperti dibawah ini:
Rumah “panggangpe” merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan merupakan bentuk bangunan dasar. Bangunan “panggangpe” ini merupakan bangunan pertama yang dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin, dingin, panas matahari dan hujan. Bangunan yang sederhana ini mempunyai bentuk pokok berupa tiang atau “saka” sebanyak 4 atau 6 buah. Sedang pada bagian sisi sekelilingnya diberi dinding yang hanya sekedar untuk menahan hawa lingkungan sekitar, atau dapat dikatakan sebagai bentuk perlindungan dari gangguan alam. Pada perkembangannya bentuk rumah “panggangpe” ini mengalami perubahan menjadi variasi bentukan yang lain, kira-kira sebanyak 6 bentukan hasil dari perkembangan bentuk sederhana tersebut.
Selain rumah tersebut, desain lainnya yang cukup kita kenal adalah Joglo. Rumah tradisional masyarakat Jawa, yaitu rumah Joglo merupakan tempat tinggal yang mempunyai derajat sosial tinggi pada tatanan kehidupan masyarakatnya. Pada perkembangan arsitektural sekarang ini, hal tersebut menjadi pudar dan hanya kalangan tertentu yang dapat memilikinya atau menginginkan bangunan tersebut menjadi bagian dari kehidupan rumah pribadinya. Rumah tradisional Joglo sekarang ini jumlahnya semakin sedikit di Indonesia, karena era modern menjadikan bangunan ini kurang diminati oleh masyarakat.
Selain hal tersebut, rumah joglo memerlukan biaya cukup mahal untuk dibangun menggunakan material baru yang disebabkan banyaknya kayu yang dibutuhkan sebagai strukturnya, sedangkan jumlah kayu semakin menipis menimbulkan dampak harga kayu menjadi mahal, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat membangun bangunan ini dengan material baru.
Rumah Joglo kampung ini mempunyai 16 buah tiang atau kolom sebagai penopang konstruksi atap yang terdiri dari 4 buah “saka guru” dengan masing masing tiang berukuran (15cm x 15cm) dan 12 buah tiang emper masing-masing berukuran (11cm x 11cm), serta mempunyai 5 buah “Blandar Tumpang Sari” lengkap dengan “kendhit”atau “koloran” yang berfungsi sebagai balok penyiku konstruksi utama bangunan tersebut. Keseluruhan bangunan asli menggunakan material struktur kayu jati dan mempunyai ukuran 8,4 m x 7,6 m.
Berdasarkan bentuk keseluruhan tampilan dan bentuk kerangka, bangunan joglo dapat dibedakan menjadi 4 bagian :
- Muda (Nom) : Joglo yang bentuk tampilannya cenderung memanjang dan meninggi (melar).
- Tua (Tuwa) : Joglo yang bentuk tampilannya cenderung pendek (tidak memanjang) dan atapnya tidak tegak / cenderung rebah (nadhah).
- Laki-laki (lanangan) : Joglo yang terlihat kokoh karena rangkanya relatif tebal.
- Perempuan (wadon / padaringan kebak) : Joglo yang rangkanya relatif tipis / pipih.
Di bagian tengah pendapa terdapat empat tiang utama yang dinamakan sakaguru. Ukurannya harus lebih tinggi dan lebih besar dari tiang-tiang / saka-saka yang lain. Di kedua ujung tiang-tiang ini terdapat ornamen / ukiran.
Bagian atas sakaguru saling dihubungkan oleh penyambung / penghubung yang dinamakan tumpang dan sunduk. Posisi tumpang di atas sunduk.
Dalam bahasa Jawa, kata “sunduk” itu sendiri berarti “penusuk”.
Di bagian paling atas tiang sakaguru inilah biasanya terdapat beberapa lapisan balok kayu yang membentuk lingkaran-lingkaran bertingkat yang melebar ke arah luar dan dalam. Pelebaran ke bagian luar ini dinamakan elar. Elar dalam bahasa Jawa berarti ‘sayap,. Sedangkan pelebaran ke bagian dalam disebut ‘tumpang-sari’. Elar ini menopang bidang atap, sementara Tumpang-sari menopang bidang langit langit joglo (pamidhangan).
Untuk lebih lengkapnya, detail dari rangka joglo adalah sebagai berikut :
sumber : Ismunandar, 2001 ( telah diolah )
- Molo (mulo / sirah / suwunan), balok yang letaknya paling atas, yang dianggap sebagai “kepala” bangunan.
- Ander (saka-gini), Balok yang terletak di atas pengeret yang berfungsi sebagai penopang molo.
- Geganja, konstruksi penguat / stabilisator ander.
- Pengeret (pengerat), Balok penghubung dan stabilisator ujung-ujung tiang; kerangka rumah bagian atas yang terletak melintang menurut lebarnya rumah dan ditautkan dengan blandar.
- Santen, Penyangga pengeret yang terletak di antara pengeret dan kili.
- Sunduk, Stabilisator konstruksi tiang untuk menahan goncangan / goyangan.
- Kili (Sunduk Kili), Balok pengunci cathokan sunduk dan tiang.
- Pamidhangan (Midhangan), Rongga yang terbentuk dari rangkaian balok / tumpang-sari pada brunjung.
- Dhadha Peksi (dhadha-manuk), Balok pengerat yang melintang di tengah tengah pamidhangan.
- Penitih / panitih.
- Penangkur.
- Emprit-Ganthil, Penahan / pengunci purus tiang yang berbentuk tonjolan; dudur yang terhimpit.
- Kecer, Balok yang menyangga molo serta sekaligus menopang atap.
- Dudur, Balok yang menghubungkan sudut pertemuan penanggap, penitih dan penangkur dengan molo.
- Elar (sayap), Bagian perluasan keluar bagian atas sakaguru yang menopang atap.
- Songgo-uwang, Konstruksi penyiku / penyangga yang sifatnya dekoratif
Bangunan Joglo adalah salah satu bangunan tradisional Jawa. Sekarang ini mulai banyak orang yang menyukai bangunan joglo untuk didirikan dihalaman depan atau halaman belakang, mulai dari peruntukan pendopo, tempat duduk-duduk bersama sampai dengan dibuat untuk tempat tinggal bahkan bangunan joglo banyak dialih fungsikan sebagai bangunan resto.
Untuk membangun joglo dibutuhkan 3 (tiga) jenis kayu yaitu yang pertama kayu jati, kedua adalah kayu pohon nangka dan ketiga adalah kayu kebun (kayu sonokeling, kayu sengon). Jika menginginkan bangunan joglo kuno kita cukup hunting mencari/membeli bangunan joglo dikampung-kampung yang sudah berdiri dan kebetulan pemiliknya ingin menjualnya.
Jumlah Kayu yang dibutuhkan dalam membuat bangunan joglo adalah kurang lebih sebanyak 5,7 meter kubik. Hitungan tersebut mulai dari kayu untuk SokoGuru (4 batang), kayu Sunduk (4 batang), kayu Belandar/Pengeret (4 batang), kayu Tumpangsari (8 batang – jika Tumpangsari 3 susun dan 16 batang jika Tumpangsari 5 susun), kayu Dodo Peksi (2 batang) fungsi dodo peksi sebagai penopang susunan kayu empyak, sedang kayu Empyak adalah berfungsi sebagai plafon ditengah (center point) biasanya dihiasi dengan ukiran. Kayu Suwunanatau Molo (bumbungan/nok) langsung diangkat dan diapit oleh 4 kayu Dudur(nok samping) berfunsi sebagai penyangga sekaligus pengikat Suwunan dengan Tumpangsari dan sekaligus sebagai pembentuk susunan atap utama (puncak atap joglo).
Selanjutnya susunan tiang-tiang luar disebut Emperan terdiri dari 12 batang dan berfungsi juga sebagai penopang kayu Belandar Emperan (4 batang) dan diatasnya sebagai penopang kayu Dudur Emperan (4 batang) yang selanjutnya akan membentuk susunan atap Emperan. Layaknya bangunan beratap genteng maka dipasang kayu Usuk (kasao) dan kayu Reng.


Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan.
Desain Arsitektur Rumah Joglo
Rumah joglo di bangun dengan desain arsitektur yang sangat unik serta penuh dengan nilai filosofi yang mencerminkan budaya jawa yang kental dan masih di pegang erat. Salah satunya ialah desain rangka atapnya yang memiliki bubungan cukup tinggi, itu semua karena terdapat 4 tiang di tengah rumah yang berukuran lebih tinggi atau biasa di sebut soko guru, nah ke empat tiang inilah yang menjadi penyangga, dan menjadi tempat pertemuan rangka atap yang akan menopang beban atap
Sementara bagian atap rumah joglo menggunakan genteng yang terbuat dari tanah liat, dahulu sebelum di temukan genting tanah liat, rumah adat jawa tengah ini menggunakan atap yang terbuat dari ijuk atau alang-alang yang di anyam sedemikian rupa sehingga bisa rapat dan melindungi rumah dari hujan dan panas, Penggunaan desain atap dengan bubungan yang tinggi serta material yang terbuat dari alam membuat suhu ruangan di dalam rumah tetap dingin dan sejuk, selain itu rumah ini dapat menyatu dengan alam serta memberikan makna filosofis tersendiri
Bagian dinding rumah tradisional jawa tengah menggunakan kayu keras, begitu juga dengan tiang, rangka atap, pintu, dan jendela, bisa di katakan secara keseluruhan bagian rumah joglo terbuat dari kayu keras, seperti kayu jati, kayu ini memang sangat awet, memiliki ketahanan yang tinggi sehingga dapat bertahan lama hingga puluhan tahun . Kebanyakan rumah joglo yang bisa kita temukan saat ini menggunakan bahan kayu jati sebagai material utamanya.
Sketsa Rumah Joglo
Sebagai sebuah rumah tentu saja rumah adat joglo berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpulnya anggota keluarga, nah rumah tradisional ini memiliki berbagai ruangan yang memiliki fungsi khusus sebagai berikut ini
1. Pendopo. Bagian ini merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian depan rumah, dengan desain terbuka membuat ruang ini menyatu dengan alam, sejuk dan cocok di gunakan untuk bersantai, meskipun begitu bagian pendopo tidak boleh di lewati oleh sembarangan orang yang hendak masuk ke dalam rumah, jalur untuk masuk dan keluar rumah ada sendiri dan letaknya terpisah memutar sebelah samping pendopo, Pendopo sendiri umumnya di gunakan sebagai tempat menerima tamu dan berbagai acara seperti pertemuan, tempat pagelaran wayang kulit, tari-tarian dan upacara adat
2. Pringitan. Ruangan ini terletak diantara pendopo dan rumah dalam, bagian ini digunakan sebagai jalan masuk dan juga sebagai tempat pagelaran wayang kulit
3. Emperan. Tempat ini adalah penghubung antara pringitan dan umah njero, tempat ini digunakan untuk menerima tamu, tempat bersantai dan kegiatan lainnya, pada Emperan umumnya terdapat sepasang kursi kayu dan meja
4. Omah Njero. Ruangan ini merupakan bagian inti dari rumah joglo, sebagai tempat berkumpulanya anggota keluarga sekedar bercengkerama dan bersantai antar keluarga. Selain Omah Njero terdapat beberapa nama lainnya yakni Omah mburi, dalem ageng, dan omah
5. Senthong Kiwo. Bagian ini terletak di sebelah kanan rumah joglo dan terdiri dari berbagai ruangan dengan fungsi khusus, seperti sebagai kamar tidur, dan tempat persediaan makanan dan minuman, dan sebagainya
6. Senthong Tengah. Sesuai dengan namanya ruangan ini terletak di bagian tengah, fungsinya sebagai tempat menyimpan barang dan benda-benda berharga seperti perhiasan, benda pusaka, keris dan benda-benda lain, juga digunakan sebagai keperluan lain seperti ritual kepercayaan, tempat menaruh sesajen, tempat beribadah, tempat bermeditasi, dan ada juga yang mempercayainya sebagai ruangan khusus tempat tinggal dewa. Ruangan ini juga biasa di sebut pedaringan, boma, atau krobongan
7. Senthong Tengen. Ruangan ini memiliki fungsi dan pembagian ruang yang sama dengan senthong kiwo, bedanya hanya letaknya saja
8. Gandhok. Merupakan bangunan tambahan yang terpisah dari rumah utama, bentuknya bangunan memanjang, biasanya digunakan sebagai ruang tidur bagi keluarga, saudara, dan tamu yang menginap
Bagian-Bagian Joglo
Umumnya Joglo berbentuk terbuka dan berfungsi sebagai pendhapa, yakni bangunan depan tempat menerima tamu atau menggelar pertemuan. Namun ada juga Joglo yang diberi dinding gebyok dengan sistem Knock-Down sehingga sewaktu-waktu dapat dicopot dengan mudah. Berikut ini adalah istilah untuk bagian-bagian dari konstruksi bangunan berbentuk joglo.
Umpak
Umpak adalah landasan batu sebagai alas tiang agar beban yang disebarkan ke tanah dapat merata sehingga tumpuan tidak amblas. Umpak berbentuk seperti pondasi tampak pada rumah modern. Selain itu fungsi tiang untuk menjaga agar tiang kayu tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Kontak langsung antara tiang dengan tanah harus dihindari agar tiang yang terbuat dari kayu tidak terpapar kelembaban tanah, terkontaminasi jamur atau hama dari dalam tanah seperti rayap, bubuk, thether, dsb. Dengan memakai alas umpak dari batu diharapkan kayu akan lebih awet dan umur bangunan dapat lebih panjang. Ketentuan tinggi umpak menurut Kawruh Kalang (ilmu konstruksi Jawa) adalah sebagai berikut: untuk saka guru tinggi umpak sama dengan keliling saka guru, untuk saka penanggap tinggi umpak setengah kelilingnya.
Saka Guru dan saka pananggap
Adalah tiang penyangga yang biasanya terdiri dari empat tiang di tengah-tengah bangunan. Dalam konstruksi joglo empat saka guru ini menjadi tumpuan yang menanggung sebagian besar berat bangunan. Oleh karena itu biasanya dimensinya lebih besar dari tiang lainnya, sesuai dengan distribusi beban yang dipikulnya. Saka artinya tiang dan guru artinya pengarah dari tiang-tiang yang lain. Dalam pengerjaannya saka guru ini dikerjakan paling duluan. Tiang-tiang yang lain yang letaknya di pinggir bangunan disebut saka pananggap. Saka atau tiang atau cagak menurut ilmu konstruksi disebut sebagai kolom, yakni elemen bangunan yang menahan beban longitudinal.
Blandar dan pengeret
Adalah balok antar tiang yang berfungsi meneruskan beban dari atap kepada tiang penyangga. Konstruksi balok menurut ilmu teknik sipil adalah konstruksi yang menahan beban lateral sehingga menderita bending moment. Oleh karena itu dalam perencanaan harus diperhitungkan kekuatan dan kemampulayanan. Dari segi kekuatan harus mampu menahan beban atap yang disangga, dari segi kemampulayanan harus dihindari efek melengkung yang merusak keindahan bangunan. Posisi blandar arah melintang bangunan disebut pengeret. Fungsi blandar dan pengeret ini ekivalen dengan ring balk pada bangunan modern, selain sebagai penerus beban atap ke tiang juga berfungsi mengikat bangunan agar tidak ambyar (tercerai berai).
Sunduk dan kili
Adalah bagian struktut yang letaknya di bawah blandar. Sunduk ini berfungsi sebagai pengunci agar struktur bangunan tidak bergoyang dan mampu menahan beban lateral (moment). Posisi sunduk arah melintang dari bangunan disebut kili. Kesatuan blandar dan sunduk akan membentuk struktur kopel momen yang kuat menahan beban lateral. Agar tercapai kesatuan tersebut di tengah-tengah antara keduanya diberi pengekang untuk menahan gaya geser, yang disebut santen.
Tumpang sari
Adalah tumpuan balok yang ditata saling menumpang dan berkait. Susunan tumpang sari bisa sampai 5 atau 7 lapis. Semakin banyak susunan akan semakin indah bangunan joglo yang dihasilkan. Tumpang sari ada dua macam, tumpang sari luar dan tumpang sari dalam. Tumpang sari luar berfungsi untuk meletakkan usuk dan dudur dan menjadi tempat bertemunya atap bagian atas (brunjung) dan atap bagian bawah (pananggap).
Tumpang sari dalam sebenarnya secara struktural tidak menahan beban apapun dan bisa ditiadakan, tetapi keberadaannya akan membuat indah tampilan bangunan. Tumpangsari dalam ini membentuk plafon bertingkat yang disebut singup.
Dudur
Adalah bagian konstruksi yang letaknya dipojok-pojok. Bagian struktur ini menjadi penguat bagunan utama dan menghubungkan bangunan utama di tengah dengan tiang-tiang di pinggir. Dudur berfungsi mirip dengan blandar namun letaknya di sudut bangunan dan posisinya miring. Dudur atas bertumpu pada balok tumpangsari terluar, sedangkan dudur bawah bertumpu pada blandar pananggap atau panitih. Untuk menguatkan perletakan dudur pada kedua sisinya diberi sekur menyambung dengan blandar pananggap yang disebut iga-iga.
Ander
Ander adalah tiang penyangga yang menopang balok paling atas (molo). Letaknya dibawah molo dan di atas pengeret tengah. Perletakan tiang ander ini bertumpu pada balok melintang yang terletak pada blandar, disebut dengan dhadha peksi. Di atas dhadhapeksi diberi landasan agar beban dari ander tidak menimbulkan beban titik, landasan ini disebut geganja.
Molo atau suwunan
Adalah balok paling atas sebuah rumah. Sering juga disebut penuwun atau suwunan. Berfungsi sebagai tempat meletakkan usuk (kasau). Menurut ilmu konstruksi molo termasuk dalam kategori balok, yakni elemen struktur yang menahan beban lateral. Untuk menjaga agar letak molo di atas ander stabil antara molo dan ander perlu diberi sekur di kedua sisi ander, disebut kecer.
Ornamen
Dalam rumah joglo ada beberapa ornamen yang tidak berfungsi secara struktural namun seringkali ada sebagai pemanis, antara lain emprit gantil (hiasan pada pertemuan tumpang sari terluar), mirong (ornamen ukiran pada saka guru), godhegan (siku antara saka dan blandar).





Komentar
Posting Komentar