Trah Pranotoasmodhimedja




Babad Mataram Amangkurat

Sejarah berdirinya dinasti Kartasura diawali dengan pertikaian antara anak-cucu Sultan Agung yang bernama Amangkurat I dengan anaknya yang bernama Raden Mas Rahmat ( kelak Amangkurat II ). Aksi kudeta Amangkurat II dan merebut salah satu selir ayahnya yang terkenal akan kecantikannya bernama Rara Oyi membuat si raja murka dan kemudian 7 kekuasaan kerajaan Mataram yang terletak di Plered ( daerah bantul ) ke anaknya yang lain bernama Pangeran Puger ( kelak Paku Buwono I ).

Mendapat serangan dari Trunojoyo pada tahun 1677 mengharuskan Amangkurat II dan ayahnya keluar dari Mataram. Dengan bantuan VOC, Amangkurat II berhasil menuntaskan pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1679. Tak selang lama berdirilah sebuah kerajaan baru bernama Kartasura Hadiningrat yang terletak di daerah Wonokarto, sebuah desa yang berdekatan dengan bekas Kesultanan Pajang.

Rasa sakit hati terhadap adiknya membuat Aman6gkurat II menyerang Mataram di Plered yang diduduki oleh Pangeran Puger dan pertempuran berakhir dengan kekalahan Mataram. Selanjutnya Amangkurat II memimpin Kartasura sebagai kelanjutan dari Mataram di Plered. Amangkurat II berkuasa di Keraton Kartasura hingga mangkat pada tahun 1703.

Pertikaian belum selesai, selanjutnya terjadi perebutan tahta antara Amangkurat III ( anak Amangkurat II ) dengan pamannya, Pangeran Puger yang dibantu VOC. Masa pemerintahan Amangkurat III mulai dari 1703 hingga tahun 1705, singkat dan diwarnai beberapa pertempuran sampai akhirnya dia diasingkan ke Srilanka hingga wafat tahun 1734. Ada sumber yang mengatakan hampir seluruh benda pusaka Mataram yang ada di Kartasura dibawa serta Amangkurat III ke Srilanka, sehingga pada saat Pangeran Puger ( kelak Paku Buwono I ) menduduki Kartasura, nyaris tidak ada benda pusaka Mataram yang tertinggal.?

Amangkurat I adalah raja terakhir Kesultanan Mataram yang memerintah dengan sewenang-wenang sejak tahun 1645. Ia juga terlibat perselisihan dengan putranya sendiri yang menjabat sebagai Adipati Anom. Pada tahun 1670 Adipati Anom menggunakan Trunajaya dari Madura sebagai alat untuk melakukan kudeta terhadap ayahnya itu.

Pemberontakan Trunajaya yang semakin besar membuatnya sulit dikendalikan lagi. Puncaknya, pada tanggal 2 Juli 1677 istana Mataram yang terletak di Plered diserbu kaum pemberontak. Adipati Anom memilih kabur bersama Amangkurat I ke arah barat.

Amangkurat I meninggal dalam perjalanan. Ia sempat berwasiat agar Adipati Anom meminta bantuan VOC untuk menumpas Trunajaya dan merebut kembali takhta.

Sesuai wasiat ayahnya, Adipati Anom pun bekerja sama dengan VOC untuk menumpas Trunajaya. Ia menandatangani Perjanjian Jepara 1677 dengan VOC, yang berisi VOC akan membantu Adipati Anom melawan Trunojoyo, dan sebagai gantinya, VOC berhak memonopoli perdagangan di Pantai Utara Jawa. Atas bantuan VOC, Adipati Anom diangkat sebagai raja tanpa takhta bergelar Amangkurat II. Trunajaya akhirnya berhasil ditangkap dan dihukum mati awal tahun 1680.

Istana lama Mataram, yang letaknya di Plered, saat itu telah dikuasai oleh Pangeran Puger, putra Amangkurat I lainnya, yang ditugasi sang ayah untuk merebutnya dari tangan Trunajaya. Amangkurat II terpaksa membangun istana baru di Hutan Wanakarta, yang diberi nama Kartasura. Ia mulai pindah ke istana tersebut pada bulan September 1680.

Kemudian terjadilah perang antara Kartasura melawan Mataram untuk memperebutkan kekuasaan atas tanah Jawa sebagai pewaris Amangkurat I yang sah. Pada tanggal 28 November 1681 akhirnya Pangeran Puger menyerah kalah kepada Amangkurat II yang dibantu VOC. Sejak saat itu, Mataram resmi menjadi bagian dari Kartasura.

Amangkurat II yang naik takhta atas bantuan VOC, kemudian hari merasa sangat dirugikan dengan Perjanjian Jepara 1677. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk melepaskan diri dari perjanjian dengan VOC, antara lain membantu perjuangan seorang buronan bernama Untung Suropati. Amangkurat II menerima dan membantu pelarian Untung Surapati di Kartasura. Kapten Tack, pemimpin pasukan VOC yang mengejar Untung Surapati tewas terbunuh di Kartasura. Untung Surapati diangkat sebagai saudara oleh Amangkurat II dan diberikan hadiah sebagai Bupati Pasuruhan pertama dengan gelar Wiranegara. Atas peristiwa itu, hubungan VOC dengan Amangkurat II memanas.

Sepeninggal Amangkurat II terjadi perebutan takhta antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger yang bergelar Pakubuwana I (Perang Suksesi Jawa Pertama). Pada tahun 1705 Pakubuwana I berhasil mengusir Amangkurat III dan merebut Kartasura. Perang antara Pakubuwana I yang didukung VOC melawan Amangkurat III yang didukung keluarga Untung Suropati di Jawa Timur baru berakhir tahun 1708. Penobatan Puger membuktikan perjanjian antara Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Martani mengenai pergantian tujuh keturunan Pemanahan ke keturunan Ki Juru Martani.

Sepeninggal Pakubuwana I terjadi lagi perebutan takhta Kartasura di antara putra, yaitu Amangkurat IV yang dibantu VOC melawan Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Dipanegara Madiun (Perang Suksesi Jawa Kedua). Perang saudara ini berakhir tahun 1723 yang dimenangkan oleh Amangkurat IV.

Amangkurat I (Amangkurat Agung), raja Kesultanan Mataram (1646-1677), memiliki banyak keturunan dari berbagai istri, namun yang paling terkenal adalah Raden Mas Rahmat (Amangkurat II) yang menjadi penerusnya. Konflik suksesi terjadi antara Amangkurat I dan RM Rahmat, yang berujung pada kudeta. Ia tercatat memiliki 22 anak.
Berikut adalah beberapa anak Amangkurat I (Amangkurat Agung) berdasarkan catatan sejarah:
  • Raden Mas Rahmat (Amangkurat II/Sunan Amral): Anak dari Ratu Kilen, penerus tahta.
  • Pangeran Singasari: Sempat dijadikan Adipati Anom menggantikan RM Rahmat.
  • Pangeran Puger (Pakubuwono I): Adik RM Rahmat yang kemudian menjadi raja setelah konflik Mataram.
  • Pangeran Teposono.
  • Pangeran Wiromenggolo.
  • G.R. Ay. Pamot.
  • G.P.H. Silarong.
  • G.P.H. Notoprojo.
  • G.P.H. Ronggosatoto.
  • G.P.H. Panular.
Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa anak-anaknya yang lain termasuk RM. Purbokoro, RM. Rangin, RM. Kertonegoro, RM. Usman, RA. Asikah, R. Sarah, RA. Kembar, RA. Buminoto, Pangeran Sumedang, dan RA. Puspodirojo.

Sosok Amangkurat Agung merujuk pada Amangkurat I (1619–1677), raja ke-4 Mataram Islam (1646-1677), yang memerintah dengan intrik dan konflik. Ia adalah putra Sultan Agung, dikenal sebagai Sunan Tegalarum. Putranya, Amangkurat II (Raden Mas Rahmat), melanjutkan takhta setelahnya.

Amangkurat I (Amangkurat Agung): Memerintah 1646-1677. Ia dikenal karena konflik dengan para ulama, termasuk eksekusi massal, dan menghadapi pemberontakan.

Amangkurat II (Raden Mas Rahmat): Putra Amangkurat I, lahir dari Ratu Kulon.

Amangkurat III (Sunan Mas): Putra Amangkurat II.

Pangeran Puger: Adik Amangkurat I yang berkonflik dalam perebutan kekuasaan yang berakibat banyak garis keturunannya lengser dan menyepi meninggalkan perselisihan garis keluarga.

Salah satu nama Pangeran Mataram Amangkurat Agung terdapat "Notoprojo/Notobroto" beliau tidak ditemukan secara langsung dalam kaitan sebagai putra langsung dari Amangkurat Agung (I) dalam dokumen sejarah utama yang terindeks (Dalam seratan Pangeran Notoprojo*)....dst

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa di Batavia yang menjalar sampai ke seluruh Jawa. Mula-mula Pakubuwana II (pengganti Amangkurat IV) mendukung mereka. Namun ketika melihat pihak VOC unggul, ia pun berbalik mendukung bangsa Belanda tersebut.

Perbuatan Pakubuwana II justru membuat kekuatan pemberontak meningkat karena banyak pejabat anti VOC yang meninggalkannya. Akhirnya pada tanggal 30 Juni 1742 para pemberontak menyerbu Kartasura besar-besaran. Pakubuwana II pun melarikan diri ke Ponorogo.

VOC bekerja sama dengan Cakraningrat IV dari Madura dan berhasil merebut kembali Kartasura. Pada akhir tahun 1743 Pakubuwana II kembali ke Kartasura namun kondisi kota tersebut sudah hancur. Ia pun memutuskan membangun istana baru di desa Sala bernama Surakarta, yang ditempatinya sejak tahun 1745.

Babad Tanah Jawi menyebut peristiwa ini sebagai Geger Pacinan. Rusaknya kraton di Kartasura, dianggap merupakan tanda hilangnya landasan kosmogonis kraton sebagai sentrum kekuasaan, sehingga perlu dibangun kraton baru.

Kerajaan Kartasura sendiri berakhir pada pemerintahan Paku Buwono II ( anak dari Amangkurat IV; cucu dari Paku Buwono I ) yang ditandai dengan Geger Pecinan pada tahun 1741 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning. Penyerangan itu berakhir hingga tahun 1743 dan Paku Buwono II kemudian memindahkan kerajaan Kartasura ke tempat baru yang kelak disebut dengan Surokarto Hadhiningrat

Ada beberapa kandidat calon keraton yang baru yaitu, Talawangi (sekarang Kadipolo – Sriwedari ), Sonosewu ( dusun di Mojolaban, Bekonang ) serta Kedunglumbu, tepian rawa yang terletak di desa Sala. Dengan berbagai pertimbangan dipilihlah Kedunglumbu sebagai wilayah keraton yang baru dan mulai dibangun tahun 1744. Setelah keraton yang baru siap dihuni, Paku Buwono II dan seluruh isi Kartasura melakukan proses perpindahan yang dikenal dengan sebutan boyong kedhaton pada tanggal 17 Februari 1745 yang kelak tanggal tersebut disahkan sebagai hari jadi Kotamadya Surakarta atau Kota Solo.


Babad Wono Tanjung Bengawan, Padusunan Jarak
Gambar terkait
Pada Jaman Ontran ontran Keraton Mataram Kartosuro kala itu ada salah seorang punggawa Keraton dalam pangubaran dalam rangka meninggalkan kekacuannya kondisi pemeritahan keraton yang semakin membuahkan pertikaian antara kelompok abdi dalem dan keluarga maka melakukan perjalanan menepi dan menyepi ke arah selatan keraton. Beliau kakek buyut yang bernama Mbah Kyai Jarak. Beliau berniat Babad Wono atau Babad Alas ke arah selatan wewengkon keraton, dalam perjalanannya terhenti dalam satu wilayah tanjungan bengawan dan tidak dapat melanjutkan perjalanannya karena terhenti pada lebarnya sungai bengawan yang pada saat itu alirannya dalam dan wingit. Untuk menyeberanginya harus membuat rakit dari alas atau pepohonan sekitar bengawan. Diwilayah tersebut merupakan daerah tanjungan yang dikelilingi bengawan dan banyak dihuni oleh Jin dan mahkluk halus lainnya. Jin dan siluman sering mengganggu manusia yang datang kewilayah ini bakal dibuat buntu dan linglung, kemana langkah yang dituju depan belakang kanan dan kiri akan buntu dan berakhir dipinggir bengawan. Sering Jin siluman menampakan diri sebagai harimau atau macan dan mengganggu kegiatan kyai jarak. Begitu berulang ulang hingga pada suatu waktu Kyai Jarak beristirahat dibawah pohon beringin yang sangat rindang dan teduh diwilayah selatan tepat dipinggir bengawan. Dalam istirahatnya sampai tertidur dan dalam tidurnya mendapatkan wangsit yang mengahahkan untuk menggunakan salah satu batang pohon yang tumbuh didekat pohon beringin tersebut dengan cara batangnya untuk memukul raja jin dan minyak buahnya buat bikin obor atau api untuk menghalaunya pada saat menjelma Harimau atau Macan. Pohon tersebut tumbuh di sekitar pohon beringin yang digunakan untuk mengalahkan dan menjauhkan raja jin dan hewan buas yang mendiami wilayah tersebut. Karena pohon yang digunakannya senjata buat mengalahkan raja jin tersebut yang berwujud Macan dengan cara 666 dengan batang pohon yang buahnya dapat mengeluarkan minyak sebagai bahan obor dinamai pohon Jarak, dan mbah kyai dinama dengan sebutan Mbah Kyai Jarak. Tidak berapa lama mbah kyai kemudian melanjutkan perjalanannya hingga menemukan hamparan tanah gembur dan subur ditanjungan bengawan. diwilayah tersebut mbah kyai mulai bercocok tanam dan bertahan mendirikan pondok ditanjungan bengawan, hingga beberapa waktu masa panen tiba. Seiring berjalannya waktu lahan bercocok tanamnya berkembang luas dan menghasilkan panen yang melimpah karena wilayahnya di sekitar tanjungan bengawan yang dikelilingi sungai jadi karakter tanahnya gembur dan subur sehingga cocok sekali untuk tanaman padi dan sayur sayuran. Waktu berjalan dengan bercocok tanam hingga anak turun mbah kyai sampai saat ini, dan setiap selesai masa panen masyarakat anak turun mbah kyai selalu melakukan adat rasulan atau Kondhangan sedekah syukur dengan makan bersama dari hasil bumi dengan dilengkapi media pentas kesenian dan wayang. Tradisi ini masih dilestarikan sampai saat ini oleh masyarakat wilayah ini. Wilayah tanjungan yang subur yang banyak pesawahan dan ladang pertanian seiring waktu sampai sekarang dinamai dengan dusun Tanjung. Sedangkan wilayah sekitar peristirahatan dan Beringin jarak dinamai dengan padusunan Jarak, dan hingga wafatnya mbah kyai dimakamkan didekat pohon beringin tersebut. Salah satu wujud menghargai perjuangan babad wono/alas mbah kyai setiap perayaan panen raya kegiatan Kondhangan dan sedekahan dilakukan di dekat peristirahatan mbah kyai dengan makan bersama seluruh masyarakat wilayah tersebut dan pagelaran pentas seni dan wayang. Tradisi ini masih dilakukan setiap setahun sekali pada saat panen raya sebagai wujud rasa syukur kepada Gusti Allah penguasa alam semesta dan bumi yang didiami yang sudah melimpahkan rejekinya dengan panen raya. Salah satu kegiatan tersebut juga tidak lepas dari kegiatan yang melibatkan keluarga besar kami sebagai salah satu trah penerus perjuangan mbah kyai.

Gambar terkait"Keluarga besar Pranotoasmodhimedja yang tersebar di seluruh indonesia sekiranya dapat dapat berkumpul dalam satu ikatan kasih keluarga, trah silsilah keluarga dari putra tercinta Syailendra dan Ayupradnyaparamita yang merupakan putra dari trah kelima dari Mas Wgm./ NotoSuwarno Asmodimejo. Eyang kami adalah Kiai Asmodimejo Buyut dari Kyai Kerthodimejo yang merupakan Trah langsung dari Kiai Djojokerto saking Kiai Jarak yang merupakan salah satu dari sesepuh pinisepuh padusunan Jarak di wilayah Karisedenan Solo wewengkon Keraton Kasunanan Surokarto Hadiningrat, Selain sepuh pinisepuh padusunan beliau juga didapuk saking babadan Jarak sawiji atau dengan garis keturunan sebagai berikut : 

Ki Notoprojo/broto
Ki Jarak* dimejo
  • Kiai Djojokertodimejo
  • Kiai Kertodimejo (Kiai Asmodimejo; Ki yoso; Ki Ranu; Nyai Redjo; Nyai Rahmi & Nyai iyem)
  • Kiai Asmodimejo/ R.Mas Kasan
  • Mas. Wgm/Noto Suwarno Asmodhimedja (Rusmanto Pranotodhimedja; Wandiyo Pranotodhimedja; Sugiyadi Pranotodhimedja; Mulyanto Pranotodhimedja; Lilik Maryono Pranotodhimedja)
  • Mas Agus Wahyudi Sigit Pranotodhimedja Anak Mas Syailendra Sigitpranata & Ayupradnyaparamita Sigitpranata.


Komentar

SOMEBODY'S ME mengatakan…
sigit manggala yudha ndi lik... hahahaha

Postingan populer dari blog ini

Konsep Bende-ra Nusantara

Suwung Hakekat Rahasia Leluhur Jawa

Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa

Tipologi Rumah Tradisional Jawa