Leluhur Orang Jawa/Tiyang Jawi Kuno (TI-HYANG Jawa-Wiwitan)
Babat Tiyang Jawa
Leluhur Orang Jawa/Tiyang Jawi Kuno (TI-HYANG Jawa-Wiwitan)
TIYANG JAWI (TI-HYANG -JAwa-WIwitan)
3 Makhluk
pertama yang diciptakan Gusti Alloh SWT, sebelum menciptakan jagat raya ini
adalah :
1. IBLIS menempati Nafsu (Neraka)
2. ISMOYO menempati kebaikan (Syurga)
3. MALAIKAT menempati jagat raya (Smesta)
Ketiganya di
sebut Tri Tunggal Pawenang, sedangkan Gusti Alloh adalah Sang Hyang Tunggal
Pawenang. Ketiga tersebut di atas adalah bersaudara, takdirnya Ismoyo menempati
kebaikan (Syurga), Iblis menempati Nafsu (Neraka) dan Malaikat menempati jagat
raya. Maka Iblis di katakan oleh Eyang Ismoyo sebagai saudaraku atau nafsuku. Di
Tanah Jawa Eyang ismoyo mewujud sebagai Sabdo Palon Noyogenggong pengasuh
raja-raja Jawa yang Bintara, dimana kalau Istirahat 500 tahun, dan jika
istirahat terjadilah peperangan, bencana alam dan lain-lain.
Di katakan oleh
Sabdo Palon Noyogenggong: "Adam saudaraku...dari Adam lahir rosul-rosul
dariku lahir Raja-raja Jawa, makanya jangan heran bila jauh sebelum
bangsa-bangsa di dunia mengenal Tauhid, di Nusantara dan Jawa khususnya sudah
menyembah Ingkang Moho Agung, Ingkang Murbeng Dumadi atau Sanghyang Tunggal
pawenang yang artinya TAUHID duluan, sementara di belahan dunia lain
mengartikan penyembahan kepadaNya dengan menyembah patung, matahari, bulan,dll.
Maka dari itu arti
JAWI tidak ada lain selain "TAUHID". Jadi dunia ini hanya sebuah
cerita yang dipertanggung jawabkan oleh Eyang Ismoyo bersama dengan kedua
saudaranya Iblis dan Malaikat, yang membuat skenario cerita yang akan
dipersembahkan kepada Alloh, sang Hyang Tunggal Pawenang. Semua ajaran agama
memiliki kesamaan pandangan akan datangnya pemimpin bagi agamanya dan dunia, kesamaan
inilah benang merahnya semua ajaran keyakinan di dunia ini walau banyak tafsir
dan versi, namun kesamaan itulah kebenaran yang tersirat. Kedatangan Imam
Mahdi, atau sang juru selamat atau sang mesias atau Sang Pemimpin sejati dunia
atau sang Satrio Piningit dll adalah benar adanya.
Skenario cerita
dunia yang dirancang beribu-ribu tahun bahkan mungkin berjuta tahun lamanya. Semua
manusia baik yang telah berpulang maupun yang masih hidup sekarang mendambakan
kehidupan yang baik di dunia ini, karena takdir kita manusia lahir, mati dan
dibangkitkan pun di dunia ini. Semua para nabi dan Rosul belum mempertanggung
jawabkan hasil dakwahnya di hadapan Alloh. Semua menunggu kedatangan sang Imam
Mahdi yang akan membawa dunia ke dalam alam kesejahteraan, ketertiban dan
saling mencintai sesamanya kembali ke Tauhidan yang memang sejak awal adalah
sama yakni Turunnya keyakinan bahwasanya manusia dan jagat raya ini ada yang
menciptakan dan diajarkan manusia untuk saling mengasihi dan berbudi pekerti
luhur.
Raja terakhir
yang di asuh Sabdo Palon Noyogenggong (perwujudan Eyang Ismoyo) adalah Prabu
Brawijaya V (tergambar di Serat Darmo Gandul, walau tidak persis). inilah yang
terkenal dengan janji 500 taun Sabdo Palon Noyogenggong akan turun kembali,
mengembalikan Nusantara dan Jawa khususnya menjadi Sejahtera, Gemah Ripah Loh
Jinawi. Kejayaan Nusantara pasti terjadi walau diantara kita tidak ada yang
percaya, karena memang sudah menjadi Janji Eyang Ismoyo kepadaNya.
“Menurut
Kitab Pustaka Raja Purwa (Gubahan R,Ngabehi Rangga Warsita, Dari Raja Kediri
,Sri Aji Jayabaya).”
Kerajaan
Pertama di dunia bernama KUSNIA MALEBARI ,Yang Menjadi Raja Adalah NABI ADAM
AS, (SYANG HYANG ADAMA) Kemudian Kerajaan ADAM ini di wariskan kepada putranya
yang bernama SAYIDINA KANIRARAS. Sedangkan Putra NABI ADAM yang lain adalah
NABI SIS AS (SYANG HYANG SYTA) yang menurunkan RAJA RAJA NUSANTARA , Kerajaan
NUSANTARA yang pertama adalah dipulau Jawa (pulau panjang yang membentang dari Sumatera
hingga BALI ,saat itu masih satu daratan) tepatnya dipuncak ARGODUMILAH GUNUNG
MAHENDRA (G ,LAWU /sekarang perbatasan JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR),Nama kerajaanya
adalah KAHYANGAN ARGADUMILAH yang menjadi MAHARAJA Adalah BATARA GURU. (SRI
PADUKA MAHADEWA BUDHA). Putra SANG HYANG TUNGGAL , Putra SANG HYANG WENANG, Putra
SANG HYANG NURASA, Putra SANG HYANG NUR CAHYA, Putra SANG HAYANG SYTA (NABI
SIS) Putra ADAM. Ribuan tahun yang lalu sebelum ada-nya tahun masehi. kemudian kerajaan
itu berganti nama menjadi KERAJAAN MEDHANG KAMULAN, yang artinya CAHAYA
PERMULAAN, Peninggalan KERAJAAN ini selaras dengan banyak bukti yang di temukan
di sekitar wilayah itu, yaitu fosil manusia purba di museum Trinil dan Sangiran
(yang dimaksud adalah fosil manusia asli keturunan Nabi Adam AS). Semua Kitab
Suci mendukung teori proses menuju kesempurnaan bahwa Tuhan Menciptakan Manusia
Adam Dan Keturunannya itu sempurna dan binatang purba di sekitar kaki gunung
lawu para ahli sejarah purbakala sepakat bahwa manusia JAWA adalah manusia
tertua di dunia ini, sebelum ada penemuan bukti yang mematahkan bukti bukti
yang ada sekarang, menandakan ada peradaban kuno di jawa 2 juta tahun yang
lalu, meganthropus palaeojavanicus penduduk
Asli JAWA Adalah Kaum JAWATA (KETURUNAN DEWA/SANG HYANG). Inilah Yang Disebut
Asli Orang JAWA./TIYANG JAWI (TI-HYANG - JAwa-WIwitan). Para Jawa-ta yang
dimaksud adalah manusia asli keturunan Nabi Adam AS yang mempunyai derajat yang
tinggi yaitu Kadewatan/Sang Hyang.
Sedangkan
orang orang yang dibawa AJISAKA ke pulau JAWA Adalah 20.000 Orang Dari Negri
RUM, yang kemudian mati semua hanya tersisa 20 orang, yang kemudian pulang
kembali ke NEGRI RUM,
Expedisi
ke pulau jawa yang kedua, AJISAKA Membawa 20.000Orang Terdiri Dari Bangsa
KELING, SIAM, dan BENGGALA, yang kemudian di tambah oleh bangsa RUM . Pada
expedisi ke tiga ke pulau Jawa atas perintah RAJA OTTO Dari I RUM. Sehingga kini
penduduk pulau jawa terdiri dari berbagai ras suku bangsa (penduduk jawa yang
terdiri dari bangsa keling ,siam, benggala, dan rum, itu bukan asli keturunan
JAWATA atau garis keturunan dari dari Nabi SIS AS yang menurunkan Sayid Anwar
Atau Sang Hyang Nurcahya. melainkan adalah keturunan dari putra Nabi Adam yang
lain,.namun ahirnya beranak pinak menjadi penduduk Jawa atau rakyat yang
mengabdi kepada raja raja jawa yang memang keturunan para JAWATA./SANG HYANG.
DEWATA
CENGKAR bukanlah raja pertama kerajaan MEDANG KAMULAN saat AJISAKA tiba di
pulau Jawa. AJISAKA Adalah Pewaris Tahta KERAJAAN SURATI yang dahulu bernama
kerajaan Najran, Ayahnya Bernama BATARA ANGGAJALI Putra EMPU RAMAYADI,Ibu AJI
SAKA Bernama DEWI SAKA Putri PRABU SAKIL Dari KERAJAAN NAJRAN. AJISAKA Datang
Ke PULAU JAWA Atas Utusan BATARA GURU (MANIKMAYA) Dan RAJA GALBAH Dari KERAJAAN
RUM ,
Kesimpulan-nya
DEWATA CENGKAR maupun AJISAKA bukan manusia pertama yang mengisi tanah jawa, tetapi
jauh sebelumnya ada yang lebih dahulu menghuni pulau jawa. yaitu para JAWATA
Dan SANG HYANG.
Orang
Jawa mengenal leluhurnya itu dengan sebutan SANG HYANG ADAMA atau SANG HYANG
JANMA WALIJAYA. sedangkan orang arab dan timur tengah mengenal dengan sebutan NABI
ADAM AS. Asli JAWA Adalah Kaum
JAWATA(KETURUNAN DEWA/SANG HYANG).Inilah yang disebut Asli Orang
JAWA.(Keturunan Sayid Anwar /sang hyang Nurcahya bin Sis As) Menurut Kitab
Pustaka raja Purwa Kerajaan Setelah Medhang kamulan di Gunung Mahendra, Adalah
Kerajaan Di Sunda Banten Yang Pertama Adalah KERAJAAN MEDHANG GILI yang Menjadi
Raja Adalah BATARA BRAMA Putra BATARA GURU,
BATARA BRAMA
Mendirikan Kerajaan Medang Gili yang kemudian berganti nama menjadi Kerajaan
Giling Wesi. BATARA BRAMA Adalah Raja Sunda Yang Pertama Bergelar SRI MAHA RAJA
SUNDA Ibu Kota Kerajaanya di Puncak Gunung MAHERA BANTEN.
Di Zaman Yang
Sama BATARA WISNU Mendirikan Kerajaan Di Gunung Gora (sekitar Tegal Jawa
Tengah) Kerajaanya Bernama Kerajaan Medhang Pura,dan Batara Wisnu Bergelar SRI
MAHA RAJA SUMAN, Dan Gunung Mahameru (jawa Timur)
BATARA INDRA Mendirikan Kerajaan Bernama
MEDHANG GHANA.Dan Bergelar SRI MAHA RAJA SAKRA Di Gunung Raja Basa (Sekarang
Sumatra Selatan )
BATARA SAMBU
Mendirikan Kerajaan MEDHANG PRAWA Dan Bergelar SRI MAHA RAJA MALDEWA.DI Gunung
Karang (sekarang adalah Bali)
BATARA BAYU
Mendirikan Kerajaan MEDHANG GORA Dan Bergelar SRI MAHA RAJA BIMA..
Kesimpulannya adalah yang menhuni Pulau jawa yang Pertama Bukan Hanya Batara
Wisnu,Melainkan adalah Seluruh Keluarganya Batara Guru (Manikmaya) .Dan Semua
Keturunan Sayid Anwar bin Sis as.(Sang Hyang Nurcahya Bin Sang Hyang Syta Putra
Sang hyang Janma Walijaya/Adam as.)
Leluhur Jawi
Kaliyan Sunda Meniko sami Trahipun Sang Hyang Manikmaya,(Batara Guru) Ingkang
Peputra Batara Brahma Jumeneng Ratu Ing Gunung Mahera banten Jejuluk SRI MAHA
RAJA SUNDA ing Projo MEDHANG GILI BANTEN bebesan kaliyan BATARA WISNU Saking
projo Medhang Pura Ing Gunung gora ,Jejuluk Prabu SRI MAHA RAJA
SUMAN.Kekalihipun Nurunaken Generasi ASLI SUNDA (PA-RA-HYANG-AN) ugi Nurun-aken
generasi ASLI JAWA (JAWA-TA).UTAWI TIYANG JAWI(TI -HYANG-JAwa-WIwitan.) Dados
kekalihipun menika Sunda -jawa sami sami Sepuh.
Syailendra Dan
Wangsa Syailendra. Versi mengenai penjelasan sumber :
1. SRI MAHA RAJA SAMARATUNGGA 812M - 899M. putra
INDRA /PARANINDRA /SANGRAMA DANANJAYA 782M - 812M. putra SRI MAHARAJA WISNU
DHARMOTUNGGA Putra SRI MAHARAJA BHANU
NARASHIMA Dari KALINGGA di INDIA.
2. SRI MAHARAJA
BHANU NARASHIMA Adalah RAJA
KALINGGA DI INDIA Yang bertahta th 580M - 619M, yang menurunkan RAJA SANTANU
(KIRATHA SINGA) Bertahta di KALINGGA INDIA TH 619M - 632M. Punya dua istri,
· Yang istri
pertama bernama DEWANILOKA Putri kalingga india yang menurunkan BHUSWARA RAJA
KALINGGA INDIA (632M - 658M). istri RAJA SANTANU
· Yang kedua
adalah DEWI BASUNDARI Putri PRABU WASUMURTI MAHA RAJA KALINGGA DIKELING KEPUNG
KEDIRI Yang bertahta th 595M - 606M. yang menurunkan KARTIKEYA SINGA (Suami
maharani SIMA). Yang dijuluki SANG LUMAH I MAHAMERU. Kelak ia menurunkan dua
trah :
o KALINGGA Selatan Bhumi Sambara yang diperintah
oleh RAKRYAN NARAYANA Yang menurunkan RAJA RAJA KANJURUHAN seperti DEWASINGHA
Dan GAJAHYANA, Dan menurunkan Sailendra. Generasi TIYANG JAWI (TI
-HYANG-JAwa-WIwitan.)
o KALINGGA Utara Bhumi Mataram Medhang yang
diperintah oleh RANI DYAH PARWATI yang menikah dengan MANDIMINYAK RAJA GALUH KE
DUA, Yang menurunkan SANAHA yang menurunkan Sanjaya. Generasi ASLI
SUNDA (PA-RA-HYANG-AN)
3. DAPUNTA HYANG
SRI JAYANASA adalah Pendiri
Kerajaan Sriwijaya th 669M - 692M, menikah dengan SOBAKANCANA Putri MAHA RAJA
LINGGAWARMAN RAJA TARUMANEGARA TERAHIR 666M - 669M. dari perkawinannya ini
melahirkan DARMAPUTRA 692M - 704M.
DAPUNTA
HYANG SRI JAYANASA Adalah Saudara kandung TARUSBAWA Pendiri kerajaan SUNDA 660M
- 723M. DAPUNTA HYANG Pernah Meminang RATU SIMA Pasca kematian suaminya yaitu
KARTIKEYA SINGHA RAJA KALINGGA di KELING KEPUNG KEDIRI Yang bertahta th 648M -
674M. (sebelum ibukota KALINGGA Dipindah ke jepara). MAHARANI SIMA Menolak
pinangan DAPUNTA HYANG dari sriwijaya sehingga hampir terjadi Perang antara
KALINGGA dengan SRIWIJAYA.
Prasasti
Dapunta Salendra :
“... – RYAYON ÇRĂŽ SATA ... ... _ Ă‚ KOTĂŽ ...
NAMAH ÇÇÎVAYA BHATĂ‚RA PARAMEÇVA RA SARVVA DAIVA KU SAMVAH HIYA – MIH INAN
–IS-Ă‚NDA DAPĂ› NTA SELENDRA NAMAH SANTANĂ› NAMĂ‚NDA BĂ‚PANDA BHADRAVATI NAMANDA
AYANDA SAMPĂ›LA NAMANDA VININDA SELENDRA NAMAH MAMĂ‚GAPPĂ‚SAR LEMPEWĂ‚NGIH.”
Awal Kerajaan Kalingga/ Holing
Kerajaan Kalingga atau
Holing adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang diperkirakan berada di
Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum
jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China. Pada abad
ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan
Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya
diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu
Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong
tangannya. Pengaruh kerajaan kalingga sampai daerah selatan Jawa Tengah,
terbukti diketemukannya prasasti Upit/Yupit yang diperkirakan pada abad 6-7 M.
Disebutkan dalam prasasti tersebut pada wilayah Upit merupakan daerah perdikan
yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Daerah perdikan Upit sekarang menjadi
Ngupit. Kampung Ngupit adalah kampung yang berada di Desa Kahuman/Desa Ngawen,
Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti Upit/Yupit sekarang disimpan di
kantor purbakala Jateng di Prambanan.
Letak Geografis Kerajaan
Kalingga/ Holing
Letak pusat kerajaan
ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten
Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Disebabkan karena tidak adanya
bukti-bukti tertulis yang berhasil ditemukan untuk mengetahui kerajaan
tersebut. Walaupun demikian, terdapat beberapa sumber yang memberikan
penjelasan keberadaan lokasi dan pusat Kerajaan Kalingga/ Holing. Menurut
berita Cina yang berasal dari dinasti T'ang, letak Kalingga/ Holing berbatasan
dengan laut di sebelah selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li
(Bali) disebelah timur. Oleh karena itu, berdasarkan berita Cina tersebut dapat
disimpulkan bahwa Kalingga/ Holing terletak di pulau Jawa (pantai utara jawa
tengah). Pendapat lain dikemukaan oleh J.L.Moens, sejarawan asal Belanda, yakni
letak Kalingga/ Holing hendaknya dekat dengan dunia pelayaran dan perdagangan.
Oleh karena itu, letak Kalingga/ Holing selayaknya dekat dengan selat malaka.
Yaitu, semenanjung malaya. Alasannya, selat malaka merupakan selat yang sangat
ramai pada masa itu. Pendapat J.L. Moens diperkuat dengan penemuan sebuah kota
kecil di semenanjung malaya yang bernama keling.
Sumber Sejarah Kerajaan
Kalingga/ Holing
Satu-satunya sumber
sejarah yang menyatakan tentang keberadaan Kalingga/ Holing berasal dari cina.
Berita itu datang dari seorang pendeta cina yang bernama I-T'sing. Ia
menyebutkan bahwa seorang temannya yang bernama Hui-Ning dengan pembantunya
yang bernama Yun-ki pergi ke Kalingga/ Holing tahun 664-665 M untuk mempelajari
ajaran agama buddha.
Ia juga menerjemahkan
kitab suci agama buddha dari bahasa sanskerta ke dalam bahasa cina. Dalam
menerjemahkan kitab itu, ia dibantu oleh seorang pendeta agama buddha dari
Kalingga/ Holing yang bernama Jnanabhadra. Menurut berita dari dinasti Sung,
kitab yang diterjemahkan itu adalah bagian terakhir tentang pembukaan
jenazah Sang Buddha.
Raja-raja yang pernah
Memerintah Kerajaan Kalingga/ Holing
Berdasarkan berita
cina, Kerajaan Kalingga/ Holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama
Ratu Sima. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, tapi adil dan bijaksana. Rakyat
taat dan tunduk terhadap perintah Ratu Sima. Bahkan tidak seorangpun rakyat
maupun pejabat kerajaan yang berani melanggar perintahnya.
Keadaan itu ingin
dibuktikan oleh raja dari kerajaan Ta-Che (dekat kaboja sekarang). Raja Ta-Che
mengirim mata-mata untuk membuktikan kebenaran berita itu. Mata-mata itu
meletakkan sekantong emas di pinggir jalan menuju pasar. Ternyata, selama lebih
kurang tiga tahun, tidak ada yang berani menyentuk kantong emas itu apalagi
mengambilnya. Hingga pada suatu ketika, ratu sima bersama putra mahkota dan
diiringi oleh pejabat kerajaan mengadakan perjalanan untuk melihat dari dekat
keadaan dan kehidupan masyarakatnya. Namun, tanpa sengaja putra mahkota
tersandung kantong emas itu sampai terjatuh. Melihat kenyataan itu, ratu sima
marah dan memerintahkan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada putra mahkota.
Tetapi, atas nasihat para pejabat istana yang mengatakan bahwa putra mahkota
tidak bersalah, maka hukuman mati diurungkan. Putra mahkota tetap dijatuhi
hukuman dengan memotong jari kakinya yang menyentuh kantong emas tersebut.
Melihat tindakan yang
dilakukan oleh ratu sima itu, mata-mata kerajaan Ta-Che memberikan laporan
kepada rajanya. Akhirnya raja Ta-Che mengurungkan niat untuk menyerang
Kalingga/ Holing.
Perkembangan Sosial masyarakat
Kerajaan Kalingga/ Holing
Kehidupan sosial
masyarakat Kerajaan Kalingga/ Holing sudah teratur dan rapi karena sistem
pemerintahan yang sangat keras dilakukan oleh rati sima. Disamping itu, ia juga
sangat adil dan bijaksana dalam memutuskan suatu masalah. Dengan demikian,
rakyat Kalingga/ Holing sangat menghormati keputusan dari ratunya. Mata
pencaharian penduduknya sebagian besar bertani, karena wilayah yang
diperkirakan bekas Kerajaan Kalingga/ Holing yaitu Keling dikatakan subur untuk
pertanian. Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling,
Jepara di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog,
dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut
arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990,
di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari
Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan
Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat
pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak.
Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring
Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.
Perkembangan Politik Kerajaan
Kalingga/ Holing
Secara politik
diketahui bahwa Kerajaan Kalingga/ Holing merupakan kerajaan besar dengan
batas-batas wilayahnya yang cukup luas. Kerajaan itu tidak meninggalkan satupun
prasasti yang menunjukkan keadaan politik Kerajaan, keberadaannya pun hanya
diketahui dari berita cina. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja putri
yang memerintah sangat adil, keadilan dalam pemerintahannya itu merupakan salah
satu faktor yang menjadikan Kerajaan Kalingga/ Holing kuat.
Perkembangan Ekonomi Masyarakat
Kalingga/ Holing
Perkembangan kehidupan
perekonomian masyarakat Kalingga/ Holing berhasil diketahui melalui berita
cina. Sudah banyak penduduk yang melakukan perdagangan apalagi disebutkan ada
hubungan dengan Cina. Disamping itu berita dari kerajaan Ta-Che juga
menunjukkan keberadaan pasar di pusat ibukota Kalingga/ Holing. Dengan
demikian, kehidupan perekonomian pada masa Kerajaan Kalingga/ Holing sudah
berjalan cukup baik. Aktifitas perdagangan sudah dapat dilakukan di suatu
tempat yang disebut pasar.
Peninggalan Budaya Kerajaan
Kalingga/ Holing
Kehidupan kebudayaan
masyarakat Kalingga diketahui dari beberapa prasasti yang diperkirakan
peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga/ Holing diantarana sebagai berikut.
Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
2. Prasasti Tukmas
Ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Isi prasasti menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
3. Candi Angin
Candi Angin terdapat di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Karena letaknya yang tinggi tapi tidak roboh terkena angin, maka dinamakan �Candi Angin�. Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua dari pada Candi Borobudur. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha.
4. Candi Bubrah Jepara
Candi Bubrah terdapat di desa Tempur, Kecamatan Tempur, Kabupaten Jepara. Candi Bubrah adalah candi yang terdapat di Desa Tempur. Candi Bubrah bisa juga dikatakan gapura menuju Candi Angin, Candi Bubrah berjarak kurang lebih 500 meter dari Candi Angin.
Awal Kerajaan mataram kuno (Dinasti
Syailendra), terletak di Jawa Tengah bagian selatan, yaitu daerah
bagelen dan yogyakarta. Berdasarkan bukti berupa candi, daerah kekuasaan
Dinasti Syailendra meliputi daerah yogyakarta sekarang dan sekitarnya.
Sumber sejarah Mataram Kuno
(Dinasti Syailendra)
Sumber-sumber sejarah
Mataram Kuno Dinasti Syailendra yang berhasil diketahui diantaranya sebagai
berikut.
1. Prasasti kalasan (tahun 778), Prasasti kalasan menyebutkan seorang raja
dari Dinasti Syailendra yang berhasil menunjuk Rakai Panangkaran untuk
mendirikan bangunan suci bagi dewa tara (istri Buddha) dan sebuh biara bagi
para pendeta. Rakai panangkaran akhirnya menghadiahkan desa kalasan bagi para
sanggha Buddha. Sanggha adalah organisasi
dalam agama Buddha. Dari keterangan disebutkan diperoleh kesimpulan bahwa pada
waktu itu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang
beragama Buddha sama-sama berperan di Jawa Tengah dan telah menjalin kerukunan
antar umat beragama.
2. Prasasti klurak (tahun 782), di derah prambanan, menerangkan bahwa
seorang raja bernama Indra membuat banguna suci dan arca manjusri. Manjusri adalah perwujudan dewa brahma. Tulisan
ini menggunakan huruf pranagari dan bahasa sanskerta. Yang disebut bangunan
suci pada prasasti ini diduga bangunan candi sewu disebelah utara candi prambanan.
3. Prasasti karangtengah (tahun 824), menerangkan
bahwa Raja Samarottungga mendirikan bangunan suci di wamewana. Disebutkan juga bahwa putrinya yang bernama
Pramodhawardani membebaskan pajak tanah disekitar bangunan suci untuk
memelihara kamulan bumi sambhara. Berdasarkan prasasti ini diketahui bahwa Raja
Samarottungga pengganti Raja Indra mendirikan bangunan suci (candi) di bumi
sambhara. Yang dimaksud bumi sambhara adalah borobudur. Candi Borobudur
letaknya disebelah muntilan daerah magelang berangka tahun 824 M.
4. Prasasti Ratu Boko (tahun 856), menyebutkan tentang kekalaha Balaputra
Dewa dalam perang saudara melawan kakaknya Pramodhawardani. Balaputra Dewa
selanjutnya melarikan diri ke Sriwijaya.
5. Prasasti Nalanda (tahun 860), menyebutkan asal usul dari Raja
Balaputradewa, yang masih termasuk keturunan raja-raja Syailendra. Balaputra
dewa adalah putra Raja Samarattungga dan cucu dari Raja Indra.
6. Peninggalan sejarah berupa candi-candi borobudur, mendut, pawon,
kalasan, sari, sewu, dan candi-candi lainnya.
Berdasarkan prasasti,
diketahui beberapa raja yang pernah memerintah kerajaan syailendra, diantaranya
sebagai berikut.
· Bhanu (tahun 752-775)
·
Wisnu (tahun 775-782)
·
Indra (tahun 782-812)
·
Samarottungga (tahun 812-833)
·
Balaputra dewa (tahun 833-856)
·
Pramodhawardani (tahun 856)
Keadaan politik Kerajaan
Mataram Kuno (Dinasti Syailendra)
Dinasti Syailendra
yang beragama Buddha sangat berperan di jawa tengah dan telah terjalin
kerukunan umat beragama dengan Dinasti Sanjaya. Pada akhir abad ke-8 M. Dinasti
Sanjaya didesak oleh Dinasti Syailendra. Maka masing-masing dinasti mempunyai
daerah kekuasaan sendiri-sendiri. Daerah kekuasaan Dinasti Sanjaya adalah di
Jawa Tengah bagian utara, sedangkan kekuasaan Dinasti Syailendra berada di Jawa
Tengah bagian selatan. Dinasti Syailendra mencapai puncak kejayaan pada masa
Raja Indra dan pada masa Raja Samarottungga tampaknya mulai surut. Untuk
menyelamatkan kedudukannya maka Samarottungga mengadakan perkawinan politik
antara Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan
Samorottungga pemerintahan dilanjutkan oleh Pramodhawardani yang menikah dengan
Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Tahun 856 M Balaputra Dewa (adik
Pramodhawardani) berusaha merebut kekuasaan karena merasa lebih berhak atas
tahta mataram setelah ayahnya meninggal. Karena usahanya gagal Balaputra Dewa
pergi ke sumatra dengan kemudian menjadi raja Sriwijaya. Sejak saat itu
kekuasaan Dinasti Syailendra berakhir dan Dinasti Sanjaya berkuasa kembali di
Jawa Tengah, yang diperintah oleh wangsa sanjaya dengan raja-raja seperti Kayu
Wangi, Watuhumalang, Balitung, Tulodong, dan Wawa. Pengganti Raja Wawa
adalah menantunya, yaitu Mpu Sindok dari dinasti Isyana.
Perkembangan Ekonomi Kerajaan
Mataram Kuno (Dinasti Syailendra)
Kehidupan perekonomian
Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Syailendra tidak pernah diketahui secara pasti.
Hal ini dikarenakan kurangnya bukti yang menunjukkan tentang keberadaan dan
perkembangan ekonomi rakyatnya. Kehidupan rakyat Dinasti Syailendra lebih ditunjukkan
pada masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan.
Peninggalan budaya Kerajaan
Mataram Kuno (Dinasti Syailendra)
Dinasti Syailendra
banyak meninggalkan bangunan candi yang sangat megah dan besar nilainya, baik
dari segi kebudayaan, kehidupan masyarakat, dan perkembangan kerajaan.
Candi-candi terkenal dari peninggalan Dinasti Syailendra adalah candi mendut,
pawon, borobudur, kalasan, sari, dan candi sewu.
Candi borobudur
memiliki sistem yang terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu kamadhatu, rupadhatu,
dan arupadhatu.
·
Kamadhatu, merupakan bagian candi yang paling bawah. Pada
bagian kamadhatu terdapat lukisan-lukisan pahat yang diambil dari cerita
karmawibhangga, yang menggambarkan sebab akibat. Kamadhatu merupakan tingkatan
hidup yang masih terikat oleh karma dan nafsu.
·
Rupadhatu, merupakan bagian tengah candi. Pada bagian rupadhatu
terdapat lukisan-lukisan pahat yang diambil dari cerita-cerita jatakamala,
lalitawisatara, dan gandawyuka. Rupadhatu merupakan tingkatan hidup manusia
yang masih terikat rupa dan bentuk.
·
Arupadhatu, merupakan bagian candi yang paling atas. Pada bagian
arupadhatu yang tampak hanya bagian sang Buddha yang terkurung, atau
patung-patung sang Buddha yang tampak di dalam relung. Arupadhatu merupakan
tingkatan hidup manusia yang tidak lagi terikat oleh rupa dan bentuk. Manusia
telah terbebas dari segala keinginan untuk bersiap-siap masuk nirwana.
Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya) , terletak di
daerah Jawa Tengah. Daerah intinya dengan nama Bhumi Mataram. Mataram
dikelilingi oleh gunung dan pegunungan seperti pegunungan serayu, gunung prau,
gunung sindoro, gunung sumbing, gunung ungaran, gunung merbabu, gunung merapi,
pegunungan kendeng, gunung lawu, gunung sewu dan gunung kidul. Daerah itu juga
dialiri sungai bogowonto, sungai progo, sungai elo, dan yang terbesar adalah
bengawan solo.
Sumber sejarah Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya)
Keberadaan Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya berhasil
diketahui beberapa prasasti. diantaranya adalah:
1.
Prasasti Canggal (tahun 732), Prasasti ini ditemukan di desa canggal
sekitar gunung wukir sebelah barat daya kota magelang. Prasasti ini berangka
tahun 732 masehi menggunakan huruf pallawa, dan berbahasa sanskerta. Dibuat
pada masa pemerintahan raja sanjaya yang berkaitan dengan pendirian sebuah
lingga (kerajaan) di bukit kunjarakarna. Prasasti ini juga menerangkan bahwa
pulau jawa kaya akan padi dan emas. Lingga adalah
lambang dari dewi syiwa. Dengan demikian dapat diketahui bahwa agama yang
dianut Mataram Kuno adalah agama Hindu beraliran syiwa (saiwa).
2.
Prasasti Balitung atau prasasti Mantyasih (tahun 907), Prasasti ini dibuat
oleh Raja Diah Balitung, ditemukan di desa mantyasih daerah kedu. Bentuknya
berupa lempengan tembaga berisi silsilah Dinasti Sanjaya. Diah Balitung
mengeluarkan prasasti itu sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima
orang patihnya di mantyasih. Kelima patih itu berjasa besar terhadap kerajaan.
Dari prasasti balitung diketahui bahwa sanjaya mendirikan Dinasti Sanjaya di
Jawa Tengah. Sesuai dengan Prasasti Balitung nama raja-raja yang memerintah
Mataram dari Dinasti Sanjaya sebelum balitung, yaitu:
·
Sri Maharaja Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya,
·
Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
·
Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
·
Sri Maharaja Rakai Warak,
·
Sri Maharaja Rakai Garung,
·
Sri Maharaja Rakai Pikatan,
·
Sri Maharaja Rakai Kayu Wangi,
·
Sri Maharaja Rakai Wutuhumalang, dan
·
Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.
Perkembangan politik Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya)
Kerajaan Mataram Kuno didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya
dan dibuktikan melalui prasasti Canggal (732 M). Keterangan dalam prasasti
tentang pendirian lingga dianggap sebagai suatu peringatan berdirinya kerajaan.
Sanjaya memeluk agama Hindu syiwa. Karena lingga merupakan lambang dewa siwa.
Dinasti Sanjaya mencapai puncak kejayaan dibawah raja diah balitung, dengan
menguasai seluruh wilayah jawa tengah. Kemudian pada masa pemerintahan mpu
sindok pusat pemerintahan dipindahkan dari jawa tengah ke jawa timur dengan
mendirikan kerajaan medang disekitar surabaya.
Perkembangan Ekonomi masyarakat Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya)
Kehidupan perekonomian masyarakat mataram bersumber pada ekonomi
pertanian (agraris). Hal ini disebabkan keadaan alam mataram yang berada jauh
di pedalaman. Dengan demikian kehidupan ekonomi masyarakat mataram tidak
sepesat dengan perkembangan kerajaan yang dekat dengan jalan perhubungan laut.
Disamping itu, sungai-sungai tidak dapat digunakan sebagai sarana transportasi
sebagaimana daerah lainnya. Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi berkembang
usaha-usaha untuk memajukan pertanian. Lalu, pada masa pemerintahan Diah
Balitung, kehidupan perekonomian rakyat mataram semakin berkembang pesat. Raja
Diah Balitung memerintahkan pendirian pusat-pusat perdagangan seperti yang
terdapat dalam prasasti purworejo (tahun 900).
Peninggalan budaya Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya)
Keturunan Raja Sanjaya tetap beragama Hindu dengan wilayah
kekuasaan meliputi jawa tengah bagian utara. Mereka mendirikan candi-candi
Hindu di dataran tinggi dieng dengan masa pembangunannya berkisar tahun 778-850
M. Anehnya, nama-nama candi itu diambil dari nama-nama tokoh dalam cerita
mahabharata, seperti candi bima, candi arjuna, candi nakula dll.
Berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat kebudayaan
Hindu dapat dihidupkan kembali. Kekuasaannya semakin bertambah luas meliputi
jawa tengah dan jawa timur. Pada zaman pemerintahan rakai pikatan dibangun
candi-candi Hindu yang lebih besar seperti candi prambanan. Pembangunan candi
prambanan diteruskan oleh para penggantinya dan diselesaikan pada masa
pemerintahan Raja Daksa sekitar tahun 915 M. Candi-candi lain diantaranya candi
sambisari, candi boko dan candi gedongsongo.
MATARAM
KUNO
Kerajaan Mataram Kuno (abad
ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan
catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno
bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu
Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M.
Kerajaan
Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya,
kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat
Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua
latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.
Peninggalan
bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks
Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun
yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi
Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.
Sekitar,Abad
8 hingga 10 Masehi, ada sebuah peradaban di tanah Jawa ( Tengah ).Kerajaan Mataram Kuno, demikian orang menyebutnya sebagai pembeda dengan Mataram
Islam (yang dianggap modern). Mataram Kuno merupakan peradaban yang bercorak
Hindu dan Budha. Ada Mataram Hindhu dan Mataram Budha. Keduanya hidup
berdampingan dengan damai. Mataram Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha
(Wangsa Syailendra), masing-masing memiliki pengikut dan peradaban.
Keduanya,
baik Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra hidup berdampingan dengan damai
dan penuh toleransi, sama-sama meninggalkan jejak peradaban berupa candi-candi
yang tersebar diseantero Jawa Tengah (khususnya tlatah Klaten
dan bhumi Magelang)
dan Jogja.
Wangsa
Syailendra meninggalkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen serta candi-candi kecil yang banyak tersebar di bhumi Magelang.
Sedangkan candi yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya antara lain : Kompleks Gunung Dieng, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Rorojongrang, Candi Plaosan serta candi kecil-kecil yang banyak tersebar di tlatah Jogja dan
Klaten.
Candi Plaosan inilah yang banyak disebut-sebut sebagai simbol penyatuan
dua Wangsa ini. Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah pernikahan
Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya) dengan Pramodhawardhani (Wangsa Syailendra).
Pramodhawardhani adalah putri Samaratungga (pendiri Borobudur) dari garwa prameswari. Ketika
keduanya memerintah, banyak mendirikan bangunan-bangunan suci (candi) dan
menurut prasasti Kayumwungan, dialah yang meresmikan Kamulan Bhumisambhara [Candi
Borobudur].
Dan
karena pernikahan inilah toleransi dan kedamaian mulai terusik. Wangsa
Syailendra juga mulai tenggelam karena terjadi perebutan kekuasaan dengan
Balaputradewa (Putra Samaratungga dari Dewi Tara). Kekalahannya dari perebutan
kekuasaan, menjadikan Balaputradewa hijrah ke Swarnabhumi [Sumatra] dan kemudian
menjadi salah satu raja di Kerajaan Sriwijaya. Maka Dinasti Syailendra
berakhir. Meski dengan berakhirnya wangsa Syailendra toleransi dan kedamaian
antara pemeluk hindu dan budha masih tetap berlanjut. Rakyat seolah tak peduli
dengan konflik elitis, bagi meraka hidup damai adalah sebuah budaya dan
peradaban. Jika ingin mengembalikan
jatidiri bangsa maka
yang seperti ini yang harus dikembalikan.

Kerajaan
Mataram di Jawa Tengah
Kerajaan
Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa(keluarga),
yaitu wangsa Sanjaya
dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya
adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon,
Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah
Raja Sanna wafat.
Setelah
Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta
Sailendra, pendiri wangsa Sailendra.
Para raja keturunan wangsaSanjaya
seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri
Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan
dari wangsa Sailendra.
Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya,
Samaratungga (rajawangsa Sailendra)
menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak
Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).
Rakai
Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini,
adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah
dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan
menjadi raja Sriwijaya.
Pada
masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa,
terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno.
Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir
dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena
letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan
medang periode jawa tengah) merupakan kelanjutan dari kerajaan kalingga di jawa
tengah sekitar abad ke 8 M, yang selanjutnya pindah ke propinsi jawa timur pada
abad 10. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu berguna untuk membedakan
kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitar abad ke 16.
Kerajaan ini runtuh pada awal abad ke 11.
Penamaan
Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk
menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang
telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu
periode Jawa Tengah. Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut
Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk
kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan
Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode
Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan
Mataram Hindu.
Pusat Kerajaan
Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan
sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang
diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam
beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah
Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan,
meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.
Sesungguhnya, pusat Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa
kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah
yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah
ditemukan antaralain:
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
·
Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
·
Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
·
Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta
sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara
itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh
sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir,
yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah
Madiun.
Awal berdirinya kerajaan
Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan
dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang
ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri
mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa
nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau
Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau.
Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha,
saudara perempuan Sanna.
Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau
"Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716
M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh
Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan
diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang
merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah menjadi
Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna. Persahabatan ini
pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya,
anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga
Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan
sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang
memerintah atas nama istrinya. Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan
Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam
tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum
ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara
puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan
Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru
Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Dari prasasti Canggal, bisa diperoleh informasi jika Kerajaan
Mataram Kuno telah berdiri dan berkembang sekitar abad ke-7 M dengan raja yang
pertama adalah Sanjaya yang memiliki gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Dinasti yang berkuasa
Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang
pernah berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra
pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada nama raja pertama Medang,
yaitu Raja Sanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa. Berdasarkan
pendapat van Naerssen, pada zaman pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti
Raja Sanjaya pada tahun 770an), kekuasaan atas Medang direbut oleh Wangsa
Sailendra yang beragama Buddha Mahayana.
Sejak saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di tanah Jawa, bahkan
berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya,
sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan menikahi
Pramodawardhani yang merupakan putri mahkota Wangsa Sailendra. Berkat
pernikahan itu ia bisa menjadi raja di Medang, dan memindahkan istana kerajaan
Medang ke Mamrati. Hal tersebut dianggap sebagai awal Bangkitan kembali
Wangsa Sanjaya.
Menurut teori Bosch, nama raja-raja Medang dalam Prasasti
Mantyasih dianggap sebagai anggota Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Sementara
itu Slamet Muljana berpendapat bahwa daftar tersebut adalah daftar raja-raja
yang pernah berkuasa di Medang, dan bukan daftar silsilah keturunan Sanjaya.
Contoh yang diajukan Slamet Muljana adalah Rakai Panangkaran
yang diyakininya bukan putra Sanjaya. Alasannya ialah, prasasti Kalasan tahun
778 memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka).
Dengan demikian pendapat ini menolak teori van Naerssen tentang kekalahan Rakai
Panangkaran oleh seorang raja Sailendra.
Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versi Prasasti
Mantyasih mulai dari Rakai Panangkaran sampai dengan Rakai Garung adalah
anggota Wangsa Sailendra. Sedangkan kebangkitan Wangsa Sanjaya baru dimulai
sejak Rakai Pikatan naik takhta menggantikan Rakai Garung.
Istilah Rakai pada zaman Medang identik dengan Bhre pada zaman
Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama
artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti
Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.
Slamet M kemudian mengidentifikasi nama Rakai Panunggalan sampai
dengan Rakai Garung dengan nama raja-raja Wangsa Sailendra yang telah
diketahui, misalnya Dharanindra atau Samaratungga. yang selama ini cenderung
dianggap bukan bagian dari daftar para raja versi Prasasti Mantyasih.
Sementara itu pada dinasti ketiga yang berkuasa di Medang adalah
Wangsa Isana yang baru muncul pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini
didirikan oleh Mpu Sindok yang membangun istana baru di Tamwlang tahun 929an.
Dalam prasastinya, Mpu Sindok menyebutkan bahwa kerajaannya merupakan
kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.
Raja-raja yang memimpin
Kerajaan Medang
Daftar raja-raja Medang menutur teori Slamet Muljana adalah
sebagai berikut:
·
Sanjaya, (merupakan pendiri Kerajaan Medang)
·
Rakai Panangkaran, (awal berkuasanya Wangsa Syailendra)
·
Rakai Panunggalan alias Dharanindra
·
Rakai Warak alias Samaragrawira
·
Rakai Garung alias Samaratungga
·
Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, (awal kebangkitan Wangsa
Sanjaya)
·
Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
·
Rakai Watuhumalang
·
Rakai Watukura Dyah Balitung
·
Mpu Daksa
·
Rakai Layang Dyah Tulodong
·
Rakai Sumba Dyah Wawa
·
Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
·
Sri Lokapala (merupaka suami dari Sri Isanatunggawijaya)
·
Makuthawangsawardhana
·
Dharmawangsa Teguh, (berakhirnya Kerajaan Medang)
Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu,
sedangkan raja sesudahnya memakai gelar Sri Maharaja.
Struktur pemerintahan
Raja merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya
sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum
identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang berarti
"pemimpin". Keduanya merupakan gelar asli Indonesia. Ketika Rakai
Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti
dengan gelar Sri Maharaja. Kasus yang sama terjadi pada Kerajaan Sriwijaya di
mana raja-rajanya semula bergelar Dapunta Hyang, dan setelah dikuasai Wangsa
Sailendra juga berubah menjadi Sri Maharaja.
Pemakaian gelar Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetap
dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal
ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja versi Prasasti Mantyasih yang
menyebutkan hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Jabatan tertinggi sesudah
raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino.
Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk
naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa
pemerintahan Dyah Wawa.
Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan
Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan
perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta. Jabatan sesudah
Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri
i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya
sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah
lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.
Jabatan tertinggi di Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan
sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman
sekarang atau setara dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Jabatan
Rakryan Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara
dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.
Perkembangan Pemerintahan
Sebelum Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, di Jawa sudah berkuasa
seorang raja bernama Sanna. Menurut prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M,
diterangkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya adalah
putra Sanaha, saudara perempuan dari Sanna.
Dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Desa Sojomerto,
Kabupaten Batang, disebut nama Dapunta Syailendra yang beragama Syiwa (Hindu).
Diperkirakan Dapunta Syailendra berasal dari Sriwijaya dan menurunkan Dinasti
Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah. Dalam hal ini Dapunta
Syailendra diperkirakan yang menurunkan Sanna, sebagai raja di Jawa.
Sanjaya tampil memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 717 -
780 M. Ia melanjutkan kekuasaan Sanna. Sanjaya kemudian melakukan penaklukan
terhadap raja-raja kecil bekas bawahan Sanna yang melepaskan diri. Setelah itu,
pada tahun 732 M Raja Sanjaya mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan.
Bangunan ini berupa lingga dan berada di atas Gunung Wukir (Bukit Stirangga).
Bangunan suci itu merupakan lambang keberhasilan Sanjaya dalam menaklukkan
raja-raja lain.
Raja Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki
pengetahuan luas. Para pujangga dan rakyat hormat kepada rajanya. Oleh karena
itu, di bawah pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan menjadi aman dan tenteram.
Rakyat hidup makmur. Mata pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil utama
padi. Sanjaya juga dikenal sebagai raja yang paham akan isi kitab-kitab suci.
Bangunan suci dibangun oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga di atas Gunung Wukir,
sebagai lambang telah ditaklukkannya raja-raja kecil di sekitarnya yang dulu
mengakui kemaharajaan Sanna.
Setelah Raja Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya bernama
Rakai Panangkaran. Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama Buddha.
Dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778, Raja Panangkaran telah
memberikan hadiah tanah dan memerintahkan membangun sebuah candi untuk Dewi
Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha. Tanah dan bangunan
tersebut terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa Raja
Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai
Panangkaran. Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke
arah timur.
Raja Panangkaran dikenal sebagai penakluk yang gagah berani bagi
musuh-musuh kerajaan. Daerahnya bertambah luas. Ia juga disebut sebagai permata
dari Dinasti Syailendra. Agama Buddha Mahayana waktu itu berkembang pesat. Ia
juga memerintahkan didirikannya bangunan-bangunan suci. Misalnya, Candi Kalasan
dan arca Manjusri.
Setelah kekuasaan Penangkaran berakhir, timbul persoalan dalam
keluarga Syailendra, karena adanya perpecahan antara anggota keluarga yang
sudah memeluk agama Buddha dengan keluarga yang masih memeluk agama Hindu
(Syiwa).Hal ini menimbulkan perpecahan di dalam pemerintahan Kerajaan Mataram
Kuno. Satu pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut
agama Hindu berkuasa di daerah Jawa bagian utara. Kemudian keluarga yang
terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha berkuasa di daerah Jawa bagian
selatan. Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan bangunanbangunan
candi di Jawa bagian utara. Misalnya, candi-candi kompleks Pegunungan Dieng
(Candi Dieng) dan kompleks Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng memakai
namanama tokoh wayang seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, dan Semar.
Sementara yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti
Candi Ngawen, Mendut, Pawon dan Borobudur. Candi Borobudur diperkirakan mulai
dibangun oleh Samaratungga pada tahun 824 M. Pembangunan kemudian dilanjutkan
pada zaman Pramudawardani dan Pikatan.
Perpecahan di dalam keluarga Syailendra tidak berlangsung lama.
Keluarga itu akhirnya bersatu kembali. Hal ini ditandai dengan perkawinan Rakai
Pikatan dan keluarga yang beragama Hindu dengan Pramudawardani, putri dari
Samaratungga. Perkawinan itu terjadi pada tahun 832 M. Setelah itu, Dinasti
Syailendra bersatu kembali di bawah pemerintahan Raja Pikatan.
Setelah Samaratungga wafat, anaknya dengan Dewi Tara yang
bernama Balaputradewa menunjukkan sikap menentang terhadap Pikatan. Kemudian
terjadi perang perebutan kekuasaan antara Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam
perang ini Balaputradewa membuat benteng pertahanan di perbukitan di sebelah
selatan Prambanan. Benteng ini sekarang kira kenal dengan Candi Boko. Dalam
pertempuran, Balaputradewa terdesak dan melarikan diri ke Sumatra.
Balaputradewa kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan Mataram Kuno daerahnya bertambah luas. Kehidupan agama
berkembang pesat tahun 856 Rakai Pikatan turun takhta dan digantikan oleh
Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Kayuwangi kemudian digantikan oleh Dyah Balitung.
Raja Balitung merupakan raja yang terbesar. Ia memerintah pada tahun 898 - 911
M dengan gelar Sri Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya
Mahasambu. Pada pemerintahan Balitung bidangbidang politik, pemerintahan, ekonomi,
agama, dan kebudayaan mengalami kemajuan. Ia telah membangun Candi Prambanan
sebagai candi yang anggun dan megah. Relief-reliefnya sangat indah.
Sesudah pemerintahan Balitung berakhir, Kerajaan Mataram mulai
mengalami kemunduran. Raja yang berkuasa setelah Balitung adalah Daksa,
Tulodong, dan Wawa. Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Mataram Kuno
antara lain adanya bencana alam dan ancaman dari musuh yaitu Kerajaan
Sriwijaya.
Konflik takhta periode Jawa
Tengah
Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan
(sekitar 856 – 880–an), ditemukan beberapa prasasti atas nama raja-raja lain,
yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal ini
menunjukkan kalau pada saat itu Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya maharaja
di Pulau Jawa. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai
Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang.
Dyah Balitung yang diduga merupakan menantu Rakai Watuhumalang
berhasil mempersatukan kembali kekuasaan seluruh Jawa, bahkan sampai Bali.
Pemerintahan Balitung berakhir karena terjadi kudeta yang dilancarkan oleh Mpu
Daksa yang mengaku sebagai keturunan asli dari Sanjaya. Ia sendiri kemudian
digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak diketahui secara
pasti alur terjadinya proses suksesi ini berjalan. Tulodhong akhirnya
tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya memiliki jabatan
sebagai pegawai pengadilan.
Permusuhan dengan Sriwijaya
Selain menguasai Medang, Wangsa Sailendra juga menguasai
Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya
Prasasti Ligor tahun 775 yang menyebut nama Maharaja Wisnu dari Wangsa
Sailendra sebagai penguasa Sriwijaya. Hubungan senasib antara Jawa dan Sumatra
berubah menjadi permusuhan ketika Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah
Medang. Menurut teori de Casparis, sekitar tahun 850, Rakai Pikatan dapat
menyingkirkan anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa.
Balaputradewa kemudian menjadi raja Sriwijaya di mana ia tetap
menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan yang telah menyingkirkannya.
Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan secara
turun-temurun pada generasi berikutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga
bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara. Rasa
permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa
Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan
Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang
(sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.
Peristiwa Mahapralaya
Mahapralaya adalah peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa
Timur berdasarkan berita dalam prasasti Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa
tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas sehingga muncul dua versi pendapat.
Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan
yang lainnya menyebut tahun 1016. Raja terakhir Medang adalah Dharmawangsa Teguh,
cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat telah beberapa kali
Dharmawangsa mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik
takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.
Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia
mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji
Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam
peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas. Tiga tahun kemudian, seorang pangeran
berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil membangun
kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama
Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang
ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.
Peninggalan sejarah
Selain mempunyai peninggalan sejarah berupa prasasti yang
tersebar di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, Kerajaan Medang (Mataran Kuno) juga
membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu atau Buddha. Temuan
Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten,
menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.
Candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan,
Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi
Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong,
Candi Sojiwan, dan Candi Borobudur.
Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dalam bentuk Prasasti:.
·
Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka
tahun 778 M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta.
·
Prasasti Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M
ditulis dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan
pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya
·
Prasasti Canggal, prasasti ini di temukan di halaman Candi
Guning Wukir di wilayah desa Canggal mempunyai angka tahun 732 Masehi. ditulis
dengan huruf pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasati ini berisi tentang
cerita pendirian Lingga (atau lambang Syiwa) di wilayah desa Kunjarakunja oleh
Raja Sanjaya selain itu prasasti ini juga menceritakan bahwa terdapat seorang
raja yang memimpin pulau jawa sebelum dirinya yang bernama Sanna yang kemudian
digantikan oleh Sanjaya.
·
Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa tengah,
berangka tahun 907 M yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti
tersebut adalah daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu
Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung,
Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah
Balitung. Untuk itu prasasti Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti
Belitung.
Kerajaan Mataram di Jawa
Timur
Setelah
terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwapralaya, maka sesuai dengan
landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula.
Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali
kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur.
Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang
didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok
dianggap sebagai cikal bakal wangsabaru,
yaitu wangsa Isana.
Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena
sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga
ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai
masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan
Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk
menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu
Kerajaan Pangjalu dan Janggala.
Letak Geografis Kerajaan Medang
Kamulan
Melalui
penemuan beberapa prasasti, dapat diketahui bahwa Medang Kamulan berada di
daerah Jawa Timur (muara sungai brantas). Ibukota kerajaan bernama Watan Mas.
Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sendok. Wilayah kekuasaan Medang
Kamulan pada masa pemerintahan Mpu Sindok meliputi wilayah Nganjuk sebelah
barat, Pasuruan sebelah timur, Surabaya sebelah utara, dan Malang sebelah
selatan. Medang Kamulan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Jawa Timur
dengan daerah pengaruhnya mencakup daerah Indonesia Timur.
Sumber Sejarah Medang Kamulan
Sumber berita
tentang Medang Kamulan berasal dari berita asing dan prasasti, diantaranya
sebagai berikut.
1. Berita Asing
Berita asing
tentang keberadaan Medang Kamulan yang berada di daerah Jawa Timur diketahui
melalui berita Cina dan India. Berita India menyatakan bahwa Sriwijaya menjalin
hubungan dengan kerajaan-kerajaan di India untuk membendung serangan dari
Medang Kamulan pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa. Berita cina ditulis
dari catatan pada zaman dinasti Sung. Catatan Cina itu menyatakan bahwa
kerajaan yang berada di jawa dengan Sriwijaya sedang terjadi permusuhan dan
pertikaian. Dengan demikian, ketika duta Sriwijaya pulang dari Cina terpaksa
harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan berakhir. Pada tahun 992, pasukan
dari Jawa Tengan meninggalkan Sriwijaya.
2. Prasasti Mpu Sindok
Prasasti itu
ditemukan di desa Tengeran, Jombang berangka Tahun 933. Prasasti itu menyatakan
bahwa Raja Mpu Sindok memerintah bersama permaisurinya yang bernama Sri
Wardhani Pu Khbin.
3. Prasasti Mpu Sindok dari
daerah Bangil
Prasasti itu
menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintahkan pembuatan sebuah candi sebagai
tempat pemakan ayah permaisurinya yang bernama Rakryan Bawang.
4. Prasasti Mpu Sindok dari Lor
(dekat Nganjuk)
Prasasti yang
berangka tahun 939, itu menyatakan bahwa Raja Mpu Sindok memerintahkan
pembuatan candi yang bernama Jayamrata an Jayastambho (tugu kemenangan) di Desa
Anyok Lodang.
5. Prasasti Calcuta
Prasasti
Calcuta merupakan prasasti dari Raja Airlangga yang menyatakan tentang silsilah
keturunan Raja Mpu Sindok.
Raja-Raja yang pernah Memerintah Kerajaan Medang kamulan
Sejak
berdirinya kerajaan Medang Kamulan, terdapat beberapa Raja yang diketahui
pernah memerintah. Raja-raja itu diantaranya adalah.
1. Mpu Sindok
Mpu Sindok
masih termasuk keturunan Dinasti Sanjaya (Mataram kuno)
di Jawa Tengah. Karena Mataram tidak memungkinkan untuk mempertahankan dinasti
Sanjaya akibat desakan Sriwijaya dari arah barat, Mpu Sindok memindahkan pusat
pemerintahannya ke Jawa Timur. Bahkan dalam prasasti terakhir Mpu Sindok (tahun
947) menyatakan, Raja Mpu Sindok adalah peletak dasar berdirinya kerajaan
Medang Kamulan di Jawa Timur. Mpu Sindok juga mendirikan dinasti yang diberi
nama dinasti Isyana. Nama Dinasti itu diambil dari gelar Mpu Sindok, yaitu Mpu Sindok Sriisyanatungga Dewa.
Namun, setelah Mpu Sindok turun tahta, keadaan di Jawa Timur dapat dikatakan
suram dan gelap. Hal ini terjadi karena tidak ditemukan prasasti yang
menceritakan kondisi Jawa Timur. Baru setelah raja Airlangga naik tahta muncul
Prasasti-prasasti yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk mengetahui
keberadaan Medang Kamulan di Jawa Timur.
2. Dharmawangsa
Dharmawangsa
dikenal sebagai seorang raja yang memiliki pandangan politik yang tajam. Semua
politiknya ditujukan untuk mengangkat derajat kerajaannya. Kebesaran
Dharmawangsa terlihat jelas pada politik luar negerinya. Dharmawangsa percaya
bahwa kedudukan ekonomi Sriwijaya yang kuat akan dapat mengancam kedudukan kekuasaannya
di Jawa Timur. Oleh karena itu, Dharmawangsa mengerahkan seluruh armada lautnya
untuk menguasai dan menduduki Sriwijaya.
Beberapa tahun kemudian Sriwijaya bangkit
kembali dan melakukan pembalasan terhadap Medang Kamulan yang masih diperintah
oleh Dharmawangsa. Dalam upaya menundukkan Medang Kamulan, Sriwijaya menjalin
hubungan dengan kerajaan bawahan Medang Kamulan, yaitu kerajaan Wurawari. Untuk
itu Wurawari melakukan serangan ke Istana Medang Kamulan saat dilangsungkan
perkawinan putri Dharmawangsa dengan raja Airlangga tahun 1016. Dalam serangan
itu, Dharmawangsa beserta kerabat Istana tewas. Airlangga dapat melarikan diri
diikuti pengikutnya yang setia bernama Narottama.
3. Airlangga
Dalam prasasti
Calcuta disebutkan bahwa Airlangga masih termasuk keturunan Mpu Sindok dari
pihak ibunya. Ibunya bernama Mahendradata (Gunapria Dharmapatni) yang menikah
dengan raja Udayana dari Bali. Setelah usia 16 Airlangga dinikahkan dengan
putri Dharmawangsa. Pada saat upacara pernikahannya itulah terjadi serangan
dari Wurawari yang mengakibatkan hancurnya Medang kamulan.
Airlangga
berhasil menyelamatkan diri bersama Narottama ke dalam hutan dilereng gunung
(wanagiri). Ditengah hutan itu, Airlangga hidup sebagai seorang pertapa dengan
menanggalkan pakaian kebesarannya. Hal itu dilakukan agar penyamarannya tidak
diketahui oleh musuh. Selama tiga tahun (1016-1019), Airlangga digembleng lahir
maupun batin di hutan lereng gunung (Wanagiri). Setelah itu ia turun dari
lereng gunung dan bersatu dengan rakyatnya. Atas tuntutan dari rakyatnya, pada
tahun 1019, Airlangga bersedia dinobatkan menjadi raja meneruskan tradisi
Dinasti Isyana. Airlangga lalu bergelar Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Teguh Ananta
Wikramatunggadewa.
Antara tahun
1019, Airlangga berusaha mempersiapkan diri agar dapat menghadapi lawan-lawan
kerajaannya. Dengan persiapan yang cukup antara tahun 1028-1035, Airlangga
berjuang untuk mempertahankan kewibawaan kerajaannya. Airlangga menghadapi
karajaan yang cukup kuat seperti Wurawari, Kerajaan Wengker dan raja putri dari
selatan yang bernama Rangda Indirah. Ditulis dalam cerita yang berjudul Calon
Arang.
Setelah
Airlangga berhasil menghadapi musuh-musuh kerajaannya, ia mulai membangun
kerajaannya disegala bidang kehidupan. Hal itu dimaksudkan untuk memakmurkan
rakyatnya, seperti bidang pertanian dan irigasi, perdagangan, pengangkutan,
kesenian dan agama.
Melalui
pembangunan yang dilaksanakan Airlangga dalam waktu singkat Medang Kamulan
berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Setelah mencapai kestabilan dan
kemakmuran rakyat, pada tahun 1042, Airlangga memasuki masa kependetaan dengan
gelar Jatinindra. Tahta kerajaan diserahkan kepada Sanggrama Wijayatunggadewi,
yakni putrinya yang terlahir dari permaisuri. Namun demikian, putrinya itu
telah memilih hdup sebagai petapa dengan gelar Ratu Giri Putri. Oleh karena
itu, tahta kerajaan diserahkan kepada kedua putranya yang terlahir dari istri
selirnya. Selanjutnya Medang Kamulan dibagi menjadi dua bagian, yaitu
Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri.
Perkembangan Sosial Kerajaan Medang Kamulan
Kehidupan
sosial kerajaan Medang Kamulan sudah teratur. Dalam kehidupan Sosial,
masyarakatnya dibedakan dalam pembagian kasta (dalam masyarakat Hindu).
Disamping itu juga berdasarkan kedudukan seseorang di dalam masyarakat, baik
kedudukan didalam struktur birokrasi maupun kekayaan material.
Perkembangan Politik Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang
Kamulan didirikan oleh Mpu Sindok di daerah Jawa Timur. Pada masa pemerintahan
raja Dharmawangsa, langkah-langkah politik yang ditempuh adalah bertujuan untuk
mengangkat derajat kerajaan. Namun Demikaian, diakhir kekuasaannya kerajaan
Medang Kamulan mengalami kehancuran akibat serangan dari kerajaan Wurawari.
Baru pada masa pemerintahan Raja Airlangga, kerajaan Medang Kamulan berhasil
dipulihkan kembali.
Perkembangan Ekonomi Masyarakat Medang Kamulan
Perkembangan
perekonomian Medang Kamulan cukup pesat karena aktifitas perekonomian yang
dilakukannya melalui sungai brantas dan bengawan solo. Ketika Medang Kamulan
diperintah oleh Dharmawangsa, perekonomian semakin berkembang pesat. Bahkan
aktifitas perekonomian rakyatnya mencapai wilayah Indonesia Timur. Dharmawangsa
ingin menundukkan Sriwijaya dengan tujuan ingin menguasai Selat Malakan sebagai
jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Setelah berhasil menguasai
Sriwijaya, tidak lama kemudian Medang Kamulan mendapat serangan dari Wurawari
(sekutu Sriwijaya). Ketika Airlangga menjadi raja di Medang Kamulan, ia
berhasil mengembalikan perekonomian agraris untuk mencapai perekonomian
maritim.
Peninggalan Budaya Kerajaan Medang Kamulan
Hasil-hasil
budaya dari kerajaan Medang Kamulan tidak begitu banyak yang berhasil
diketahui. Hanya ada beberapa yang berhasil diketahui, yaitu berupa prasasti
atau bangunan tugu kemenangan yang dibangun atas perintah Raja Mpu Sindok. Tugu
itu yang diberi nama Jayamrata an jayamstambho di desa Anyok Lodang (Jawa
Timur).


Komentar
Posting Komentar