SANGKAN PARANING DUMADI
SANGKAN PARANING
DUMADI
(Rilis Dalam Bahasa
Indonesia)
SAKDURUNGE MANUNGSO
DUMADI/LAIR ONO ING ALAM NDONYO
Manungso Iku Durung Duwe
Jeneng
(Asmo/Asma/Nami/Nama/Aran/Juluk/Tetenger)
Ateges Durung Ono (Utowo ORA ONO). Sak Wise Manungso Lahir/Dumadi. Lagi Duwe
Jeneng (Asmo/Asma/Nami/Nama/Aran/Juluk) Ateges ONO, Yen Mangkono Manungso Iku
Asale ORA ONO Banjur ONO Lan Mbesuk Bakal Bali ORA ONO Maneh, Utowo
(NIRWONO)/SAMPURNO.
Sebelum manusia itu lahir (dumadi) ke dunia adalah belum
mempunyai nama (asmo/ asma/ nami/
aran/ jejuluk/ tetenger) yang bisa dikatakan belum ada. Dan setelah
manusia itu lahir barulah akan diberi nama atau dengan kata lain mempunyai
nama, dengan begitu artinya manusia itu asalnya tidak ada menjadiada dan
kemudian pada akhirnya menjadi tidak
ada lagi /sempurna.
Kemudian syarat-syarat agar supaya bisa
mendapatkan tempat hidup sebenarnya (sejatine
urip) yang kekal, adalah bukan karena kata-kata siapa tetapi hanya
melulu karena pengetahuan yang benar-benar karena diberi penglihatan batin (kawruh). Dan sekali lagi
syarat-syarat itu bukan karena manusia (oleh manusia), tetapi benar adalah
karena (......) orang Jawa tidak berani menyebutnya karena dianggap njangkar (tidak sopan), yaitu
Gusti yang menciptakan jagat
gumelar (bumi dan seisinya).
A. Pengertian Tentang Roso lan
Ros-rosing (Rasa dan Ruas-ruasnya)
Roso adalah alat untuk hidup, dan
ruas-ruasnya (ros-rosing roso) adalah penggalan-penggalannya yang diberi nama,
artinya ada rasa begini, ada rasa begitu (asin, manis, pahit, dingin, panas,
dll) dan itu semua adalah termasuk dalam rasa seutuhnya (roso sejati). Roso sejati adalah rasa tidak
dapat berubah.
Ruas-ruas dari rasa itu semua tadi akan
lengket menempel di badan halus maupun badan kasar kita. Ruas-ruas rasa yang
lain seperti: kerasan, kesepian, cinta, dendam, bahagia itu juga merupakan
bagian dari ruas-ruas rasa yang akan menempel pada hati (perasaan).
Sedangkan rasa mujur, sengsara, ingat,
waspada, curiga, kasihan, menyesal, ikhlas itu dimana-mana ada (di batin, di
budi, di badan), dan itu dinamakan rasa pikiran (rosoning pikir).
Sebagai contoh: misalnya ketika membuat
sayur dan ternyata rasanya hambar kurang garam, itu kan cukup diberi garam,
bukannya lantas bertengkar. Bila hanya masalah sayur yang kurang garam saja
menjadikan sebuah pertengkaran itu namanya belum tahu (mengerti) tentang rasa.
B. Pengertian Tentang Reh Mangukut (Warongko Manjing Curigo)
Artinya reh mangukut ialah jiwa yang mengukut raga atau jiwa
yang meringkes raga (badan), keadan biasa seperti ini maka badan atau raga ada
di luar sedangkan jiwa ada di dalam, dan sebaliknya apabila terkukut maka jiwa
akan meringkes raga dengan kata lain raga akan masuk kedalam jiwa. Yang
dimaksud jiwa disini adalah badan halus, dan hal inilah yang dilambangkan
sebagaiwarongko manjing curigo.
Banyak ahli kebatinan kasampurnan yang
menginginkan hal seperti ini. Apabila seseorang sudah memahami apa yang
disebut reh mangukut ini
maka bisa dianggap Sarjono /
Sujono atau juga Sesepuh
(liring sepuh) yang dimaksud adalah: sepi howo (tanpa kemauan), sepi ing pamuring (tanpa amarah) dan sepi ing pepengin (tanpa
keinginan). Jadi menjalani hidup dengan menjadi manusia biasa yang
sebiasa-biasanya (sepi howo awas
loroning atunggal).
C. Tentang Kebatinan.
Aetinya olah batin yaitu menjalankan
hal-hal yang baik-baik saja dan meninggalkan semua yang jelek-jelek. Berkata
harus jujur, sama antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Hal ini adalah agar
manusia itu selamat dan sempurna hidupnya di dunia dan akherat.
D. Tentang Ngelmu.
Ngelmu iku
kelakone kanthi laku. Sebuah pepatah Jawa namun banyak
sekali orang yang tidak mengerti artinya. Tetapi mungkin ini berbeda dengan hal
itu.Ngelmu itu sendiri
adalah sesuatu penglihatan yang didapatkan secara batiniah. Jadi bukan ilmu
yang biasa kita sebut sebagai Ilmu Pengetahuan (IPA/IPS). Sebuah ngelmu mestinya orang harus
mendapatkannya dengan syarat-syaratlaku atau
yang sering disebut sebagai laku prihatin. Namun demikian banyak orang
mendapatkan ilmu itu dengan cara membeli atau dengan bahasa halusmahar. Maka bila kita ibaratkan orang
yang melamar pekerjaan dengan menggunakan ijazah palsu, saat diwawancarai maka
akan dijawab dengan lancar karena memang yang diketahui hanya kulitnya saja.
Namun demikian apabila orang itu sudah mendapatkan kerjaan yang sesungguhnya
apapun yang dikerjakan rasanya tidak benar alias ngawur. Demikian pula
halnya ngelmu yang
tidak diperoleh dengan laku.
E. Tentang Gusti.
Gusti itu berasal dari kata bagus ing ati. Hati yang bagus itu adalah hati yang selalu
bersih dari kotoran alias suci yang berarti pula berada pada hyang widhi(pencipta alam semesta).
Maka dari itu manusia yang dapat membersihkan hatinya dari kotoran dan selalu
berbuat kebaikan disebut pula sebagai orang yang telah dapat menyatukan antara
lahir dan batin, dan itulah yang disebutmanunggaling
kawulo lan gusti.
F. Tentang Ghaib.
Yang disebut ghaib adalah sesuatu yang
samara, tidak dapat diraba dengan tangan, tidak dapat dilihat dengan mata. Hal
ini juga yang dikatakan dekat tanpa singgungan dan jauh tak terhingga yang
ukurannya sebesar mrica dibubut.
G. Pengertian Tentang Loro-loroning Atunggal
Artinya dua tetapi satu, yaitu antara
jiwa dan raga. Jiwa itu pengganti gusti dan
raga pengganti kawulo,
jadi bersatunya antara kawulo dan gusti, dan itulah yang disebut
sebagai loro-loroning atunggal tadi
dan benar-benar bersatu dan menyatu.
Sedangkan teluning atunggal adalah bersemayam pada: nama (jeneng/ asmo/ asma/ nami/ aran/ juluk/
tetenger), ingsun (aku/
rogo/ wadag) dan urip (ALLAH).
Sembah rogo adalah sembah yang dilakukan
dengan raga, misalnya: sembahyang dan semedi. Sembah cipto (kalbu) adalah
sembah dengan pikiran/akal. Sembah jiwa adalah sembah dengan mental atau budi
(karakter). Yang terakhir sembah rasa adalah alat untuk hidup dimana selalu ada
korban perasaan.
H. Pengetahuan Tentang Angka Nol (0)
Sampai Dengan Angka Duapuluh (20)
Angka 0 (nol), artinya itu
memberitahukan bila kosong, bersemayam pada anak kecil yang belum tahu apa-apa
(wang-wung).
Angka 1 (satu/siji), dari kata isine
aji, tetapi bukan untuk barang-barang berharga seperti mas berlian
tetapi ajining diri, yang
berada pada orang-orang yang baik pribadinya yang akan dihormati oleh sesama,
maka dari itu angka satu itu bersemayam pada gusti yang berasal dari kata bagusing ati yang menjadikan angka satu berasal dari angka
nol.
Angka 2 (dua/loro), berada pada ayah dan ibu, yang bersemayam pada isi dunia
yang selalu berpasangan, ada bahagia ada sedih, ada raga ada jiwa, ada siang
ada malam, ada pria ada wanita, dsb.
Angka 3 (tiga/telu), adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara,
hidup, rasa dan raga atau berkarya. Makan dan mati, dan bagi rumah tangga ada
bapak, ibu dan anak.
Angka 4 (empat/papat), menurut kepercayaan Jawa manusia mempunyai empat
saudara: mutmainah (putihnya air), amarah (merahnya darah), supiah (kuningnya
angin) dan aluamah (hitamnya tanah). ONGKO 4= (PAPAT) ,
dununge.manungso due sedulur papat, atau mingkin dapat juga diberi namakeblat papat.
Angka 5 (lima/limo), berada pada keblat
papat limo pancer, bersemayam bila dijabarkan maka terdapat pada jenazah
dan empat orang yang membawa/memikul keranda.
Angka 6 (enam/nem), tang berasal dari kata nemu, bersemayam pada sedulur papat limo pancer, yang ke-enam adalah bayangannya, dan
bila diutarakan maka menjadi arah mata angin: Timur, Barat, Utara, Selatan,
bawah dan atas.
Angka 7 (tujuh/pitu), bersemayam pada tujuh nama hari: Senin, Selasa, Rabo,
Kamis, Jum’at, sabtu dan Minggu. Bisa juga dengan adanya rambut, kulit, daging,
tulang, sunsum, urat dan darah.
Angka 8 (delapan/wolu), maksudnya jangan menghindar (owal) terhadap barang yang diperlukan, dan mestinya jangan lupa
terhadap perbuatan yang baik tadi, bersemayam pada windu (8 tahun) atau wali wolu (di Jawa ada pemahaman wali yang bener hanya 8
orang).
Angka 9 (sembilan/songo), pengertiannya adalah seorang
bayi ada dalam kandungan selama sembilan bulan, bersemayam pada wali wolu
dengan penutup yang ke-sembilan.
Angka 10 (sepuluh), terdiri dari angka 1
dan 0. Angka ini sudah memberikan sasmita kepada manusia, bahwa itu merupakan
bersatunya antara kawulo dan gusti, yang bisa dikatakan sebagai
pinjam-meminjam. Artinya hidup itu apabila tidak meminjam raga tidak dapat
bergerak sedikitpun dan tidak berarti apa-apa, demikian pula raga apabila sudah
tidak bernyawa mau apa lagi. Lebih sederhananya begini: angka satu (1) apabila
tanpa angka nol (0) tidak bisa berbunyi sepuluh.
Angka 11 (sebelas/sewelas), menjelmanya angka sebelas
ini adalah perlambang kepada kita ketika bapak/ibu bersanding di pelaminan.
Angka 12 (duabelas/rolas), 1 (satu) artinya hidup, 2
(dua) artinya laki-laki/perempuan yaitu bapak dan ibu yang diartikan
sebagai rong elas (rong iji = dua buah). Hidup yang
satu itu bersemayam (ngerong)
pada dua (loro) orang, yaitu bapak
dan ibu.
Angka 13 (tigabelas/telulas), artinya hidup itu
menghidupi tiga perkara: manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Angka 14 (empatbelas/patbelas), artinya hidup itu
mempunyai empat unsur: air, api, udara dan tanah.
Angka 15 (limabelas/limolas), artinya hidup itu
menggunakan lima macam alat yang disebut panca indra: telinga, mata, hidung,
mulut dan lidah (indra perasa termasuk kulit).
Angka 16 (enambelas/nembelas), artinya hidup itu terdiri
dari enam bagian: mutmainah, amarah, supiah, aluamah, bayangan dan badan kasar.
Angka 17 (tujuhbelas/pitulas), artinya hidup sebagai
manusia itu harus memiliki: bulu/rambut, kulit, otot (daging), tulang, sunsum, urat (otot) dan darah.
Angka 18 (delapanbelas/wolulas), artinya hidup itu harus
menghidupi wali wolu,
disamping menghidupi raganya juga keluhuran budinya, dan ini bisa dibuktikan
sampai sekarang keharuman nama beliau masih terasa, banyak orang yang datang
untuk berziarah ke makam beliau-nya ini. Itulah contoh orang yang bisa mencapai
hidup yang sebenarnya (urip kang
sejati).
Angka 19 (sembilanbelas/songolas), artinya hidup itu harus
menghidupi 9 jalan keluar: telinga (2), mata (2), hidung (2), mulut (1), anus
(1) dan kemaluan (1).
Angka 20 (duapuluh/rongpuluh), artinya hidup itu
bersembunyi (ngerong) di dalam
bapak dan ibu, dua orang yang bisa dipakai untuk ngerong urip siji menjadi dua tetapi satu (loro-loroning atunggal), dan itulah
terjemahannya maka dari itu duduknya sepasang penganten di pelaminan itu bisa
disebut sebagai sastro jendra
hayuningrat.
SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT:
Tulising
gusti kang cetho dumunung ono wujud ing manungso lanang lan wadon. mulo
manungso bisane nggayuh budi luhur/rahayuning wiwitan lan pungkasan, senajan
manungso iku diwenangake duwe karep nggayuh donyo brono kudu manut marang
krenteg-ke ati kang resik, biso-o ngemong urip kang suci, nuli biso sampurno
lair lan batine.
(Sabda dari YME yang terang benderang
ada pada manusia itu sendiri sebagai laki-laki dan perempuan, maka dari itu
apabila manusia mempunyai keinginan untuk berbudi luhur (selamat dari permulaan
hingga akhir), meskipun manusia itu sudah digariskan untuk mempunyai keinginan
kebendaan duniawi, namun demikian haruslah mengikuti hati kecil (hati kecil
biasanya selalu jujur) yang bersih, sebisa mungkin mengemban hidup yang suci,
dan nantinya akan bisa sempurna lahir dan batin)
H. Pengertian Tentang Huruf Jawa
Huruf Jawa (dasar) itu ada 20 macam, yaitu: ho no co ro ko,
do to so wo lo, po dho jo yo nyo dan mo go bo tho ngo. Ke-20 macam huruf ini
mempunyai sifat masing-masing yang bila diterjemahkan adalah sebagai jari-jari
manusia, dan masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri.
Ho = hurip (hidup),
no = nur, co = cahaya, ro = roh, ko = kumpul, do = dzat, to =tes, so = siji, wo = wujud, lo = langgeng (kekal), po = papan,
dho = dhawuh(perintah), jo
= jasad, yo = nyaguhi (sanggup),
nyo = ngelungake (memberikan),
mo = margo (jalan),
go = gaib, bo = babar (lahir),
tho = thukul (tumbuh)
dan terakhir ngo = ngalam
gumilang.
I. Tentang Huruf Jawa Yang Disusun Yang
Paling Depan Dengan Paling Belakang.
Ho ngo = hangen-hangen (angan-angan),
no tho = nuthuk (memukul),
co bo = coblong/bolong, ro go = raga, ko mo = benih, do nyo = ndonyo (dunia), to yo = air, so
jo = siji, wo dho = wadhah (tempat) dan lo po
= lampus.
Huruf pertama dan huruf ke-9 adalah ho wo. Howo adalah udara, dan sifat ini
ada pada laki-laki karena laki-laki mempunyai lobang jumlah sembilan. Dan
apabila 20 dikurangi sembilan (9) akan ada sebelas (11), sifat itu ada pada
wanita karena wanita mempunyai 11 lobang, selisih dua dengan laki-laki yaitu
pada puting susu.
J. Pengertian Tentang Hawa Nafsu
Hawa artinya angkara murka, nafsu adalah
daya kekuatan. Jadi hawa-nafsu secara keseluruhan berarti angkara murka yang
didorong oleh kekuatan syetan.
K. Tentang Sedulur Papat Limo Pancer
1. Mutmainah: bersemayam di jantung
berwujud air berwarna putih, dengan watak yang suci dan sungguh-sungguh,
pintunya ada di hidung. Hidung adalah alat atau panca indra yang tak pernah
bohong. Contoh: ketika hidung mencium bau ikan asin maka bisa dipastikan du
dapur ada yang memasaknya meskipun mata belum malihat. Ketika hidung mencium
bau trasi yang kagak enak, tetapi tetap juga dimakan atau dibutuhkan meski
sekedar hanya sebagai bumbu. Ketika hidung mencium bau harumnya kembang toh
ketika dimakan rasanya tidak enak, pahit.
2. Amarah: bersemayam di empedu,
berwarna merah dan berwatak keras, angkara murka, dan pintunya ada di telinga.
Keterangannya: manusia bisa merasakan baik dan buruk karena mempunyai telinga,
dan ketika mempunyai keinginan yang jahat atau yang baik maka itu karena darah
yang berwarna merah. Darah itulah yang menyebabkan manusia bisa berbuat
sesuatu, dan manusia tanpa darah yang berwarna merah itu maka dunia ini akan
sepi dan tidak akan seperti sekarang ini.
3. Supiyah: bersemayam di lobang tali
plasenta (wudel), berwujud
angin yang berwarna kuning, berwatak mengumbar hawa nafsu (mau menangnya
sendiri), pintunya ada di mata. Maka dari itu mata bisa dikatakan lanange jagad (yang paling
berkuasa). Mata dipakai untuk melihat semua hal yang tergelar, maka manusia
mempunyai keinginan karena mata melihat. Supiah pintunya ada di mata tetapi
berwujud angin kuning yang akan keluar dari hidung.
4. Aluamah: bersemayam di lambung yaitu
tempat menyimpan makanan, kalau usus merupakan tempat kotoran. Aluamah berwujud
tanah yang berwarna hitam, mempunyai kesenangan untuk merasakan makanan yang
enak-enak, maunya hanya senang dan enak. Pintunya ada di mulut, maka dari itu
bisa celaka karena kata-kata yang keluar dari mulut sendiri. Mulut yang dalam
bahasa Jawa cangkemmempunyai
arti cancangen supoyo mingkem (ikatlah
agar tertutup), kata-kata yang baik maupun buruk asalnya sama saja maka akan
lebih baik jika mulut digunakan untuk berkata-kata yang baik-baik saja. Diam
adalah emas.
5. Pelengkap agar menjadi lima adalah
hidup, yaitu yang menghidupi empat perkara yang diatas tadi. Atau yang
disebut sedulur papat kalimo
pancer, ya hidup itu adalah pancernya. Jadi mutmainah, amarah, supiyah
dan alumah semua dipinyai oleh hidup.
L. Keblat Papat(4) Limo (5) Pancer dalam
Keseharian.
Manusia mempunyai tangan kanan, tangan
kiri, kaki kanan, kaki kiri dan yang ke-lima adalah teluning atunggal, yaitu: baitul makmur, baitul mukarom dan baitul mukodas.
M. Bibit Dumadi
1. Bayi umur sebulan dilambangkan dengan
huruf jo, disebut nukat ghaib, airnyanur mani, laut berupa layar putih,
bangunannya kumalah yang
berarti juga riris tangis.
2. Bayi umur dua bulan dilambangkan
dengan huruf yo,
disebut koat ghaib, airnyanur buat, lautnya rantai yang disebut
juga kismo djati.
3. Bayi umur tiga bulan dilambangkan
dengan huruf nyo,
disebut rijalolah ghaib,
airnya nur roso,
lautnya kumolah, yang
berarti juga Hyang Widhi.
4. Bayi berumur empat bulan
dilambangkan dengan huruf mo,
disebut rikmo djati.
Airnya nur kumoro djati,
lautnya bindari suci yang
disebut juga Sang Hyang Adji.
5. Bayi berumur lima bulan dilambangkan
dengan huruf go,
disebut jo kumolo,
airnya nur kismoyo,
lautnya imoloyo, yang
disebut juga Sang Hyang Brahma yang berwujud sedulur limo.
6. Bayi berumur 6 bulan dilambangkan
dengan huruf bo,
disebut roso hendro moyo,
airnya nur cahyo,
lautnya kumoro danu, yang
disebut sebagai manu maningkem
manunggale kawulo lan gusti dengan wujud rasa yang enam itu.
7. Bayi berumur 7 bulan dilambangkan
dengan huruf tho,
disebut waringin sungsang,
airnya tali roso,
lautnya madu nirmolo, yang
berarti Heru Seto Jinggo Moyo Jati. Berwujud air ketuban dan
ari-ari.
8. Bayi berumur 8 bulan dilambangkan
dengan huruf ngo,
disebut mayang kumoro sari,
airnya manik gito,
lautnya cupu purbo miseso yang
disebut jugaJono Loko Jati,
berwujud kakak tertua dan si bontot.
9. Bayi berumur 9 bulan dilambangkan
dengan huruf wo,
disebut Hendro Loko Jati,
airnya nur tirto moyo,
lautnya tak bertepi yang disebut pula Sastro Jendro Hayuningrat dengan wujud sadad tanpa sabdu.
Setelah itu bayi akan lahir dan melihat
terangnya dunia yang dilambnagkan dengan Bintang Johar sebagai kelahiran (dumadi ingsun), yang disebut pula
bintang Al Ghoniyyu.
N. Pengertian Tentang Tempat Bersemayamnya
Angkara Di Triloko
Triloko (Jagat
Telu) terbagi menjadi 3 yaitu: Guru Loko (ada di otak), Indro Loko(ada di hati) dan Jono Loko (ada di syahwat/dzakar). Apabila nafsu angkara
itu baru berada di otak (pikiran) maka keinginan orang itu adalah: drajat/ pangkat/
semat/ kramat. Bila nafsu angkara itu berada di Indro Loko (panca indra) maka orang itu akan mempunyai
keinginan untuk menjadi yang paling unggul/ paling kuat (menange dewe). Dan ketika nafsu
angkara itu berada di syahwat maka bisa dipastikan orang itu mempunyai tenaga
yang super (sangat kuat). Dan yang terakhir apabila ketiga nafsu itu menyerang
bersama-sam pada manusia, maka bisa diibaratkan manusia itu hidup dengan
memelihara Dosomuko (seorang tokoh jahat dalam cerita Ramayana). Artinya kita
semua akan merugi karena tidak akan bisa menerima wahyu/ wangsit / pepadanging Gusti, dan tentunya akan menjadi
penghalang dalam menjalani kehidupan ini. Dan inilah yang bisa terjadi apabila
manusia itu menjalankan /mencari ngelmu tanpa laku. (Ada pepatah jawa:Ngelmu iku kalakone kanthi laku.)
O. Sempurnanya Dumadi.
Manusia itu harus dapat mengetahui
keberadaan tirto pawitro mahening
suci(air kehidupan yang bersih dan suci). Dimana sebenarnya itu berada
dalam diri sendiri masing-masing. Dengan cara harus menempuh jalan lakyono yo (mati di dalam hidup)
dan harus juga menengok ke alam lokantoro (antoro = batas), yaitu
perbatasan antara alam halus dan alam kasar. Maka disana akan kita jumpai
perwujudan yang menyerupai gumuk (rumah
rayap yang membesar)/ tawon golek
jumono, yaitu perwujudan dari saudara kita yang disebut kawah ari-ari (air
ketuban). Golek jumono yaitu
suatu perlengkapan hidup manusia, disana akan dijumpai persimpangan jalan
(perempatan) yang merupakan wujud dari 4 cahaya:
1.
Cahaya
berwarna merah adalah sumber amarah.
2.
Cahaya
berwarna kuning adalah sumber kesenengan.
3.
Cahaya
berwarna putih adalah sumber kesucian.
4.
Cahaya
berwarna hitam adalah sumber kekuatan (energi).
Dan apabila nanti manusia itu kembali
kepada Gusti maka harus tetap memilih jalan suci, artinya akan dapat kembali
kepada Gusti Yang Maha Suci.
P. Kunci Sangkan Paraning Dumadi
Hyang Sukmo
Sejati, seksenono ingsun kirim gondo arum kang dak kirim sedulurku kang lahir
bareng sedino kang dak sebut kakang kawah adi ari-ari, kakang mbarep adine
wuragil. Kang adoh tanpo wangenan cedak tanpo senggolan, yo iku titipane wong
tuwaku lanang lan wadon. Kakang kawah adi ari-ari moro tampanono kiriman gondo
arum iki, dak suwun jumbuh dadi siji karo Sang Hyang Sukmo Sejati.
(Hyang Sukma Sejati, saksikanlah aku
mengirim wewangian yang aku alamatkan kepada saudara yang terlahir bersamaku
yang saya sebut sebaga kakang kawah adi ari-ari, kakang sebagai si sulung dan
adik sebagai bontot. Yang jauh tanpa wewangian dan yang dekat tanpa singgungan,
yaitu titipan dari kedua orang tuaku laki-laki dan perempuan. Kakang kawah adi
ari-ari segera terimalah kiriman wewangian ini, dan saya minta agar menyatu
dengan Sang Hyang Sukma Sejati.)
Q. Bibit Sangkan Paraning Dumadi.
Tes putih
soko bopo, tes abang soko biyung, wujud gedong cagak papat lawange songo,
gumantung tanpo centhelan isen-isene Hyang Sukmo Sejati. Lungguhe ono batinku
kang suci, kanggonan wekasan urip sejati, kang aran dzat lan sifat weruh
sak-durunge winarah, tetep madhep mantep langgeng sak kodrat ingsung, dadio sak
ciptaningsun.
(Bijih putih dari bapak dan bijih merah
dari ibu, berwujud bangunan dengan tiang empat dan sembilan pintu, tergantung
tanpa cantelan dan berisi Hyang Sukma Sejati. Bersemayam di batinku yang suci,
sebagai awal hidup sejati, yang mempunyai dzat dan sifat weruh sak-durunge
winarah, tetap setia dan taat bersamaan dengan diriku, dan jadilah apa yang
kukehendaki.)
Ngerti
sak-durunge winarah adalah pepatah Jawa yang kira-kira
berarti: dapat mengerti tentang beberapa hal sebelum ada yang memberi tahu.
R. Tentang Pedoman Hidup. (Tri Prakoro)
Sebenarnya banyak sekali pedoman hidup
untuk manusia di Jawa ini (lihat: Ki Demang Sokowaten), namun demikian disini
mencoba untuk meringkasnya. Dengan itu pedoman hidup bisa digolongkan menjadi
3, yaitu: Wiryo, Harta dan Tri Winasis.
1. Wirya.
Mempunyai pengertian untuk menjunjung
tinggi trah orang-orang besar. Mestinya adalah yang luhur itu budi dan drajat
hidupnya, tetapi disini bisa saja biar keturunan orang yang luhur budinya
tetapi ternyata tidak. Sebagai contoh berikut ini adalah bersumber dari cerita
wayang.
Begawan Wisrowo adalah seorang biksu
yang luhur, dan dipercaya oleh Prabu Sumali, tetapi anakanya yang bernama
Dosomuko tidak juga menjadi anak yang berbakti (luhur budi) malahan menjadi
kekecewaan di dunia, mejadi sampah dunia.
Begawan Durno, adalah seorang
Pandito/Resi dan juga anak dari Begawan Barat Wojo, tetapi dalam cerita wayang
(versi Jawa) selalu menjadi orang yang berwatak angkara murka dan bermuka dua,
selalu bersikap memuji kepada Pandawa di depannya, tetapi akan berusaha untuk
menghancurkan Pandawa demi membela Kurawa.
Santrin Kinono adalah orang sangat sudra
dengan anggota badan yang kurang lengkap, tetapi mempunyai hati yang lurus, dan
berbudi luhur. Adalah ketika dia bisa menolong kepada Pandawa dan terhindar
dari marabahaya kebakaran yang diciptakan oleh Kurawa. Jadi makna sebenarnya
disini tentang berbudi luhur itu bukan pada turunannya, tetapi ada pada budi
yang dibawa masing-masing.
2. Harta.
Arti sebenarnya adalah kaya akan harta
benda, tetapi pengertian disini bukan hanya itu saja, yang penting adalah kaya
akan ilmu pengetahuan. Dengan kaya akan ilmu pengetahuan maka bisa dipastikan
akan menjadi pemaaf, menjadi orang yang menerima (nrimo), penyabar, sangat sungguh-sungguh, sangat berhati-hati
dan banyak mempunyai teman yang rukun terhadap sesame, karena keilmuannya itu
dapat bermanfaat buat semua saudara maupun teman-teman semua.
3. Wasis
Yang dimaksud wasis disini adalah
kepintaran (pandai). Orang yang pintar/pandai akan mempunyai banyak
pengetahuan, dan orang yang banyak mempunyai pengetahuan tidak akan pernah
kesusahan, yang penting agar kepandaiannya itu bukan untuk mengakali orang atau
teman-temannya sendiri, atau juga bukan untuk malakukan hal-hal yang menyimpang
dari pedoman hidup.
Jadi ketiga diatas tadi mestinya harus
bisa menjangkaunya, dan apabila ketiga diatas tadi sama sekali tidak punya,
maka kan hilanglah sifat manusia tadi, dan yang tertinggal hanya sifat hewani
saja. Ya begitu itulah manusia, apabila tidak mengindahkan akan pedoman hidup
dan juga tidak waspada terhadap Tri Prakoro (Wirya, Harta, Wasis).
S. Tentang Jagad Raya.
Permulaan terjadinya jagat raya ini,
adalah ketika jaman masih awang-uwung(tidak
ada apa-apa sama sekali) yang ada hanya Gusti Allah sendiri. Keadaan yang tanpa
apa-apa itu tidak dapat terlihat oleh mata (tan keno kinoyo ngopo), tetapi ada, karena adanya kekuasaan dari
Gusti Allah. Kemudian diciptakannyalah tiga perwujudan dan kemudian juga
menyatu kepada ketiga perwujudan tadi yang disebut sebagai Trimurti (telu-teluning atunggal).
Tiga warnanya, juga tiga kelihatannya
dan tiga macam pula pekerjaannya, tetapi satu yaitu Gusti (Tuhan) Yang Maha
Esa.
1. Perwujudan yang pertama adalah Surya
sebagai Matahari dengan kekuasaannya memberikan kehidupan di seluruh jagad.
Baik kasar maupun halus semua adalah kekuasaannya.
2. Perwujudan yang kedua adalah Condro
sebagai Rembulan dengan kekuasaannya memberikan perlindungan, memberikan
sandang-pangan dan kemakmuran dengan pemeliharaannya.
3. Perwujudan yang ketiga adalah Kartiko
sebagai Bintang yang mempunyai daya keadilan dan mati, dengan tugas
menghilangkan semua perwujudan yang bersifat tidak kekal.
Ketiga daya penguasaan tadi selalu
beredar (hanyokro manggilingan),
berputar terus berganti-ganti tanpa ada putusnya. Suryo yang membuat hidup,
dipelihara dan dirawat oleh Condro, dan akhirnya dimusnahkan oleh Kartiko,
begitulah seterusnya.
Suryo sebagai Matahari, selain mempunyai
daya kekuasaan kehidupan juga mempunyai daya panas yang bisa berubah menjadi
api, selanjutnya bersemayam di antariksa. Condro sebagai Rembulan, selain
mempunyai mengayomi/melindungi juga mempunyai daya dingin yang bisa berwujud
sebagai air, seperti juga matahari selanjutnya akan bersemayam di antariksa. Begitu
juga Kartiko sebagai bintang, selain mempunyai kekuasaan atas keadilah dan
kematian maka mempunyai daya udara yang netral dan mempunyai wujud sebagai
angin, selanjutnya juga akan bersemayam di antariksa.
Perwujudan yang tiga warna tadi
seterusnya berkumpul menjadi satu di antariksa, tertiup angin dari atas
kebawah, dari Selatan ke Utara, dari Timur ke Barat, lama-lama api, air dan
angin tadi berhenti berhenti di tengah-tengah jagad raya, dangumantung tanpa canthelan (tergantung
tanpa penyangga) dan perwujudan akhir ini yang disebut sebagai maghma..
Lama kelamaan maghma tadi menjadi
berkerak dan berwujud sebagai mineral, besi, baja, emas, perak, dan lain-lain.
Mineral-mineral tadi terus berkembang menjadi batu, dan batu berkembang menjadi
pasir, pasir berkembang menjadi tanah. Karena maghma tadi adalah perwujudan
yang sangat panas dan terbungkus oleh batu, pasir, tanah dan sebagainya maka
lama-kelamaan akan menguap dan air akan meresap kedalam tanah. Tanah yang basah
oleh air dan mendapat sinar matahari lama-kelamaan di bumi ini terjadi berbagai
macam tumbuhan yang beraneka warna.
Ya keadaan seperti itulah yang kemudian
dinamakan bumi sap pitu (lapis
tujuh):
Maghma, Mineral, Batu, Pasir, Tanah, Air
dan Tumbuh-tumbuhan. Dan bumi sendiri itu mempunyai cahaya yang berwarna hitam.
Itu semua tadi adalah asal-usul jagad raya (Jagad Agung) ini.
Dan berputarnya bumi itu diatur oleh
kekuasaan Surya maka kemudian dinamakan Tata Surya. Dan secara lengkap alam
semesta ini mempunyai empat macam cahaya, yang masing-masing berwarna: merah
(dari surya), kuning (dari condro), putih (dari kartiko) dan hitam (dari bumi).
Tetapi karena dari keempat tadi hanya cahaya hitam yang tidak tampak dan tidak
bisa memancar, maka cahaya merah, kuning dan putih akan memancar kan cahayanya
ke bumi, dan inilahDumadine Jagad
Agung, Sangkan Paraning Dumadi.
T. Tentang Asal-Usul Jagad Alit (Bwaono Setro/ Badan
Kasar)
Pada uraian diatas tentang
terjadinya Jagad Agung, sudah
dipahami bahwa bumi berasal dari api yang cahayanya merah dengan daya panas,
dari air yang cahayanya kuning dan punya daya dingin, serta angin yang
cahayanya putih dan bersifat netral. Berkumpulnya api. Air dan angin tadi akan
menjadi maghma, yaitu pusat bumi yang dapat memberikan wadah sebagai bumi lapis
tujuh. Berkumpulnya daya panas, dingin dan hampa (angin) akan mewujudkan cipta,
rasa, dan karsa, adalah berkumpulnya dzat yang merupakan asal-usulnya
kehidupan. Berkumpulnya tiga macam warna (merah, kuning dan putih) adalah
mewujudkan sukma, yaitu badan halus yang juga dianggap sebagai para dewa, dewi,
bathara, jin, peri, dsb.
Day panas, dingin dan netral tadi
sebelum menyatu menjadi dzat maka akan memenuhi antariksa (awang-wung) dan dalam pengetahuan
modern hal ini disebut sebaga: proton, elektron dan netron, yang bersatu
membentuk dzat yang dinamakan atom.
Berkumpulnya 4 macam cahaya tadi akan
mewujudkan nafsu, yaitu yang akan dipergunakan sebagai syarat mutlak untuk
hidup manusia. Sedangkan berkumpulnya sari-sari dari api, air, angin dan tanah
(bumi), akan menjadi badan kasarnya manusia. Dan sebelum di jagad raya ini
terdapat makhluk-makhluk berbadan kasar, maka terlebih dahulu yang ada adalah
makhluk-makhluk berbadan halus, yaitu suksma, dan pada waktu itu semua makhluk
itu yang dinamakan sebagai dewa-dewi, bethoro-bethari, jin, peri, prayangan,
dsb. Dari kesemua macam titah (makhluk)
yang berbadan halus itu maka dewa-dewi, bethoro-bethari dianggap yang paling
tinggi kedudukannya, dan kehidupan dari makhluk-makhluk itu tanpa menyentuh
tanah, dan perkembang-biakannya tidak menggunakan hukum-hukum kelahiran tetapi
dengan sabda (kun fayakun).
Keadaan seperti itu berlangsung hingga
beribu-ribu tahun lamanya, dan akhirnya pada suatu waktu salah satu dewa dan
bethoro yang baru saja melakukan kesalahan-kesalahan besar terhadap Gusti
(Tuhan YME), maka atas kekuasaan Sang Hyang Tunggal dewa tadi disabda menjadi
manusia, yaitu makhluk berbadan kasar dan harus menghuni bumi. Dan setelah itu
maka kemudian berlangsung hukum kelahiran, dan dewa-dewi yang disabda mau bisa
disebut sebagai manu.
Yang dikatakan manu adalah karena menurut hukum
kodrat dari penjelmaan para dewa/bethoro yang
berbadan kasar. Dan manusia adalah menurut hukum kodrat sebagaimana manusia
biasa, artinya berkembang biak dengan hukum-hukum kelahiran. Para manu tadi yang menurunkan
manusia yang berasal mula dari hukum kodrat kelahiran disebut sebagai swayambu manu.
U. Asal Mula Makhluk Berbadan Halus.
Berkumpulnya rasa, cipta dan karsa yang
akhirnya mewujudkan dzat yang asalnya dari Trimurti (Surya, Candra dan Kartika),
yaitu dzat yang suci yang kesuciannya hampir menyamai Yang Maha Suci, karena
memang dzat tadi berasal dari daya Gusti
Kang Moho Suci dan bisa disebut sebagai Dzatullah.
Perbedaannya sucinya Gusti akan memenuhi jagad raya,
sedangkan sucinya dzat tadi hanya dapat memenuhi badan satu saja, Gusti Yang
Maha Agung akan menguasai jagad dan seisinya, maka dzat itu hanya menguasai
badan kasar dan seisinya. Dan dzat tadi yang menjadi utusan Gusti untuk memayu hayuning bawono dan
seisinya dengan hukum-hukum kelahiran dan hukum-hukum sabda. Hukum kelahiran
menggunakan badan kasar dan hukum sabda menggunakan badan hakus atau suksma. Apabila dzat melakukan
kesalahan (mendapat karma) maka akan menjadi utusan lewat hukum sabda dengan
sarana badan halus (suksma). Karma berasal dari kata karya manah (perbuatan hati).
Semua perbuatan yang berasal dari
pikiran itu pasti akan berbuah. Perbuatan yang baik juga akan berbuah kebaikan
dan sebaliknya maka perbuatan yang buruk juga akan berbuah keburukan. Maka ada
pepatah Jawa mengatakan:ngundhuh
wohing pakarti. Dan itulah hukum karma, semua manusia hanya tinggal
memetik hasil perbuatannya.
Karena dzat (badan kasar yang ditempati
suksma) adalah selalu meiliki karma (baik maupun buruk), maka dzat itu harus
menjadi utusan melalui penjelmaannya dengan hukum-hukum kelahiran. Dengan
begitu semua orang (manusia) hidup yang dilahirkan ke alam dunia akan mempunyai
dosa (karma), dan apabila tidak mempunyai karma maka tidak akan dilahirkan.
Juga apabila tidak mempunyai karma berarti masih berbadan halus (alam kedewaan)
dan yang berlaku adalah hukum sabda.
Penjelmaan dzat hidup dari alam kedewaan
ke manusia adalah melalui hukum-hukum kelahiran, jadi haruslah melewati
perseteruan antara pri dan wanita. Mungkin kisah berikut ini bisa menjabarkan
hal tersebut.
Dan kala itu, ketika ibu masih gadis dan
bapak masih jejaka, sebenarnya diriku sudah ada. Saya berada (bersemayam) di
cipta rasa dan karsa dari kedua orang-tuaku, dan bisa disebut sebagai sir atau grenjet. Dan setelah bapak dan ibu mendapatkan sir selanjutnya sire bapak dan ibu membuahkan
budi. Dan setelah itu bapak dan ibu menabur benih budi dan disemayamkan
di jonoloko yang
disebut guwo garbo (kandungan).
Saya keluar dengan warna putih suci yang beasal dari warna cahaya merah, kuning
dan putih, ya itulah yang disebut air mani (sperma), wadi, suksmo, roso, dzat yang maha suci.
Telu-telune
atunggal, yaitulah saya (hidup) kekal yang tidak
mati, yaitu dzat dari Gusti Yang Maha Suci, dan akan membangun badan kasar di
dalam guwo garboibu,
sebagai rumahku untuk hidup di alam raya untuk menjalankan kewajiban hidup
sebagai utusan dari Gusti Yang Maha Kuasa.
Aku di dalam kandunga ketika berumur
sebulan di dalam membentuk badan kasar itu, maka ibuku terus berhenti (tidak
datang bulan) kemudian ibu akan selamatan bubur suro. Selanjutnya setiap
tanggal 1 Suro maka para ibu-ibu akan membuatkan Bubur Suro. Bubur
Suro ini merupakan beras biasa yang akan dihias dengan irisan cabe
merah dan telor dadar berwarna kuning. Itu mempunyai arti: bahwa keadaanku
(yang akan menjadi badan kasar) adalah berasal dari tiga macam warna, merah
berasal dari sarinya api, kuning dari sarinya angin dan putih dari sarinya air.
Dan pada waktu itu saya juga mendapatkan sarinya warna hitam yang berasal dari
bumi yaitu makanan yang dimakan ibu dan meresap melalui tali plasenta (sumber
makanan bayi).
Ketika kandungan sudah berumur 2 bulan,
maka wujud badan kasarku bisa dikatakan pating grendhul, maka dari itu kemudian diselamati dengan
membuatjenang grendhul. Jenang grendhul ini juga
dinamakan jenang sapar atau Saparan.
Ketika kandungan sudah berumur 3 bulan,
maka badan sudah berwujud. Maka sudah ada bagian kepala, bagian perut, bagian
tangan, bagian kaki, bagian mata, bagian telinga, bagiaan hidung dan bahkan
bagian kelamin sudah ada. Dan maka dari itu ketiga.tempat sudah terbentuk juga
yang disebut: giriloko, indroloko danjonoloko. Maka dari itu kemudian
dibuatkan selamatan telonan yang berarti: kadaton yang tiga tempat itu sudah
jadi, yaitu sebagai arah atas, tengah dan bawah (otak, hati dan kelamin).
Lama setelah kandungan menginjak umur
tujuh bulan, maka rumah yang dibilangcagak
papat lawang songo sudah jadi dan komplit dengan segala ornamenya:
tulang, sungsum, urat, darah, otot, kulit dan rambut (bulu). Maka dari itu kemudian
dibuatkan tanda dengan selamatan tujuh bulanan (mitoni, lingkepan) yang mempunyai arti bahwa rumah yang tujuh
warna atau bumi yang tujuh lapis itu sudah lengkap, yang keseluruhan
berbunyi: bumi lapis pitu cagak
papat lawang songo.
Kandungan umur 9 bulan adalah sudah
waktunya untuk lahir (mrocot),
maka dibuatkan selamatan berupa: bubur
procot, kue apam dan pisang. Selamatan tadi disebut dengan procotan lan megengan. Procotan yang mengandung arti
agar kelahiranku kelak akan mudah tanpa suatu halangan apapun, dan megeng adalah ketika saya akan
lahir ke dunia keluar dari perut ibu, maka ibu akan megeng(meregang) napas, dan
selanjutnya setiap tanggal 1 Poso akan diadakan selamatan megengan.
Hidup yang ada di badan kasar ini adalah
bersemayam di telenging ati (pusat
hati, ada yang mengatakan hati kecil), yang mempunyai kekuasaan untuk membuat
baaik atau buruk bangunan rumah itu (jagad
cilik). Dan setelah itu maka setiap 1 Syawal kan dibuatkan sego punar yang dinamakan syawalan. Artinya, saya sudah
terpisah dari badan ibu (guwo garbo,
kandungan) menjadi utusan Gusti dan berkewajiban menjalankan hidup di alam raya
ini.
Mulai dari awal kandungan hingga hari
kelahiran ibu juga masih mempunyai kekuasaan untuk menyelamatkan badan kasar,
dan begitu juga saya masih berkuasa dalam Trimurti. Dan setelah lima hari
(sepasaran) kekuasaan yang ada di giriloko akan
pindah ke sedulur papat limo
pancer, yang berasal dari cahaya yang empat macam itu. Mereka akan
bersemayam di telinga, hidung dan mulut, dan menguasai 7 pintu, maka kemudian
disebutkan sebagai tujuh hari. Mereka mempunyai lima kekuasaan yang disebut
sebagai panca indra, yaitu: indra pendengar, indra penglihat, indra pencium,
indra pengucap dan indra perasa. Dan disebut sebagai pasaran limo.
Setelah masuk kedalam kedaton roso (rasa) yang ada di
indraloka dan bersemayam di hati-sanubari. Umur 35 hari (selapanan, dimana misalnya lahir hari
Jum’at dan pasaran Legi maka hari itu adalah sama) kemudian dibuatkan
selamatan selapanan.
Mempunyai arti bahwa kekuasaanku yang kedaton ketiga itu sudah diambil-alih (selapi) oleh sedulur papat limo pancer.
Seorang anak yang sudah berumur 105 hari
(tiga selapanan) akan dibuatkan selamatan nasi tumpeng yang diberi nama telung lapan. Ini mempunyai arti:
bahwa kekuasan yang telu-telune
atunggal (cipta, rasa dan karsa) sudah dikuasai oleh pancaindra.
Dan sejak saat itulah maka kekuasaan di tiga kedaton itu sudah tidak ada sama
sekali, mulai dari Trimurti hingga bumi lapis tujuh semuanya sudah diakui oleh
sedulur papat limo pancer, dan keadaanku makin merasuk kedalam makin dalam ada
di pusat hati (telenging ati), dan rumahku sendiri sudah ditempati, dikuasai,
diatur dan dijaga oleh saudara sendiri sedulur papat limo pancer.
Seperti itulah keadaan rumahku yang
harus hidup terbelenggu oleh saudara sendiri, dengan tempat yang sangat rumit,
dan kekuasaan hanya tinggal bagaimana untuk menghidupi badan kasar ini, dengan
tujuan hidup untukmemayu hayuning
bawono, tetapi semua sudah hilang, dan pada akhirnya nanti harus
dipertanggung-jawabkan di depan Gusti
Kang Moho Kuwoso.
