Culture Desa Adat Wologai, di Kabupaten Ende


Pesona Culture Desa Adat Wologaidi Kabupaten Ende

"Catatan kecil perjalanan mengenal Nusantara dalam sebuah genggaman rasa mencintai keanekaragaman budaya dan culture leluhur anak negeri."

Desa Adat Wologai adalah salah satu desa tradisional yang lebih terkenal di Flores. Menurut cerita, desa ini memiliki masa lalu yang kelam. Pada waktu dulu, penduduk desa Wologai menggunakan kulit manusia untuk gendang mereka. Wologai juga dikenal dengan Lamba Bupu, yaitu sebuah gendang kecil yang dimainkan setahun sekali dengan pemukul dari daun alang-alang. Konon katanya gendang ini terbuat dari kulit manusia. Menurut Musalaki Adat yang menemani kami bercerita, bahwa kendang tersebut benar dari kulit manusia khususnya bagian perut. Yang pasti untuk mengganti kendang yang terbakar akan dilakukan ritual khusus, dan pada saat ritual tersebut akan muncul seseorang yang menjadi relawan untuk diekskusi dan diambil kulit perutnya untuk dijadikan kendang. Dan yang anehnya orang tersebut entah dari mana datangnya, karena bukan orang yang berasal dari desa Wologai. Alat musik ini biasanya selalu di tempatkan di Keda yang selalu di kawal oleh Anadeo, sebuah patung laki-laki yang di sakralkan oleh masyarakat kampung.

Mosalaki atau Lakimosa (tetua adat) berdasarkan garis keturunan  baru. Bisa dari garis keturunan ibu (matrilinear) atau dari ayah (patrilinear).

Di tengah desa Wologai, ada panggung ritual. Sebagai orang luar Anda dilarang memasuki kawasan ini. Ditanah yang lebih tinggi nampak ada 3 bangunan dari dari kayu dan bambu, beratapkan ilalang berada melingkar disisi luar tanah yang lebih tinggi dan dibatasi oleh batu batuan, dimana didalamnya terdapat satu bangunan yang sama dan sebuah altar yang terbuat dari batu yang lebar dan ceper/ datar serta berdiri satu buah bangunan dari batu. Ada beberapa batu yang besar, dan kita tidak boleh menyentuhnya. Dari info yang ada, ada sebuah batu, bila kita sentuh sembarangan akan menyebabkan angin puting beliung. Untuk itu kita tidak boleh sembarangan dan ada batas area mana saja yang boleh didekati. Jika pengunjung  memasuki panggung ritual ini, maka jiwa pengunjung akan terjebak di desa selamanya.

Desa ini juga memiliki batu seremonial. Batu ini dipagari dengan tongkat bambu sederhana, yang tidak diizinkan disentuh oleh pengunjung. Kata penduduk setempat, jika  batu itu disentuh aka nada badai yang  tiba-tiba meletus atau cuaca buruk akan mempengaruhi desa. Tempat upacara yang juga berbentuk lingkaran terletak di tengah-tengah kampung berjarak sekitar 10 meter dari gerbang. Di tengah tempat upacara berdiri kokoh 2 baru menhir berwarna abu-abu gelap dalam ukuran berbeda sebagai pusat upacara dan penyerahan kurban. Sekitar 5 meter dari batu menhir terletak satu bale-bale dan pondok yang menjadi tempat duduk para kepala suku / musolaki memimpin upacara adat saat upacara sedang berlangsung. Pengunjung dilarang memasuki tempat upacara tersebut. Pada sisi kiri dan kanan terdapat jalan masuk ke tempat upacara berupa tangga dari batu-batu padas berbagai ukuran dan bentuk.

Selain yang bersifat mistis, ada juga beberapa hal menarik tentang Wologai. Misalnya, menikmati berinteraksi dengan penduduk desa karena mereka sangat ramah. Orang-orang dewasa cukup pemalu, tapi anak-anak sangat senang menyapa pengunjung. Mereka juga memiliki beberapa patung kayu buatan tangan yang cantik dan mengklaim bahwa kopi dari Wologai adalah yang terbaik di wilayah ini.

Desa ini hanya berukuran kecil dan Anda bisa merasakan budaya lokal di sini, bertemu dengan penduduk desa yang ramah dan mendapatkan gambaran tentang kehidupan desa.
Berkunjung ke Kabupaten Ende, menyempatkan diri dating berkunjung ke Kampung Adat Wologai. Kampung yang terletak di ketinggian sekitar 1.045 mdpl merupakan salah satu kampung adat tertua yang tersisa dan masih ada di Flores. Diperkirakan usianya sudah sekitar 800 tahun atau generasi ke 13. Di bagian depan sebelah kanan pintu masuk kampung terdapat sebuah pohon beringin yang diyakini komunitas adat Wologai ditanam oleh leluhur mereka, yang sekaligus konon setara dengan waktu pendirian kampung adat ini. Kampung Adat Wologai terletak sekitar 37 kilometer arah timur dari kota Ende, di Kecamatan Detusoko yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun mobil.


Satu hal unik dari Wologai adalah arsitektur bangunannya yang berbentuk kerucut. Rumah-rumah dibangun melingkar dan ada tiga tingkatan dimana setiap tingkatannya disusun bebatuan ceper di atas tanah yang sekelilingnya dibangun rumah-rumah. Semakin ke atas, pelataran semakin sempit menyerupai kerucut.



Deretan rumah panggung di kampung ini dibangun melingkar mengitari Tubu Kanga, sebuah pelataran yang paling tinggi yang biasa dipakai sebagai tempat digelarnya ritual adat. Batu ceper yang terdapat di tengah digunakan serupa altar untuk meletakan persembahan bagi leluhur dan sang pencipta. Rumah panggung ini dibuat dari kayu yang diletakan di atas 16 batu ceper yang disusun tegak untuk dijadikan tiang dasar penopang bangunan ini. Bangunan dengan panjang sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 5 meter ini memiliki atap berbentuk kerucut yang dibuat dari alang-alang atau ijuk. Tinggi banguan rumah sekitar 4 meter sementara atapnya sekitar 3 meter.


Bersama Aloysius Leta salah seorang pemangku komunitas adat Wologai sedang berdiri di depan rumahnya. Ia terkenal piawai membuat patung ukiran dari kayu. Aloysius mengaku sebagai generasi ke-13 dari Suku Lio yang masih mempertahankan adat dan keaslian Kampung Tradisional Wologai Tengah. Ia juga menjadi semacam juru bicara dari para tetua adat. Tak heran, apabila ada tamu atau wisatawan yang datang, maka ia yang akan bertugas menemani dan memberi berbagai penjelasan. "Kampung adat ini merupakan yang tertua di Kabupaten Ende. Adat istiadatnya sangat terpelihara dengan baik dan sangat kental kami jalankan," tuturnya.


Ia melanjutkan, jumlah rumah-rumah adat yang ada di Kampung Tradisional Wologai berjumlah 22 bangunan. Terdiri dari 6 bangunan rumah upacara adat, 4 buah bangunan lain, dan 12 bangunan lainnya merupakan rumah hunian masyarakat adat. "Rumah yang saya huni ini namanya Sa'o Soko Ria. Semua rumah bentuknya sama, tapi namanya beda-beda," ujarnya.

Di Wologai Tengah ini, ujar Aloysius, rumah sangatlah bermakna. "Rumah adalah mama, benar-benar mama. Karena itu, pada setiap kiri dan kanan pintu yang ada di bangunan rumah adat sini, selalu terpajang patung kayu maupun ukiran yang (maaf) berwujud buah dada mama. Jadi, rumah itu adalah mama, menurut kepercayaan adat Suku Lio di sini," ujarnya seraya menambahkan bahwa suasana perkampungan saat ini sunyi karena ini adalah Hari Minggu dan hampir semua orang pergi beribadah ke gereja.

Adapun gambar-gambar yang ada di ukiran kayu sisi luar teras rumah banyak mengandung arti nilai-nilai harga diri dari seorang mama. Artinya begini, kalau rumahnya itu sendiri adalah merupakan simbol dari mama, maka ukiran dan pahatan yang beraneka gambar ini adalah nilai-nilai yang melambangkan harga diri mama. Masyarakat adat Lio memegang pola garis keturunan Ibu yang memegan peranan dalam kemasyarakatan maupun keluarga, tapi kekuasaan tidak juga dipegang oleh garis keturunan langsung seorang perempuan, peran kau Laki-laki masih tetap sebagai pemimpin keluarga dan masyarakat. Ada sebuah rumah, oleh masyarakat Lio disebut sebagai rumah utama ibu, yang  diperbolehkan berada di dalamnya hanya kaum perempuan saja. Hal tersebut sebagai simbol masyarakat matrilineal. Yang menarik lagi, setiap ruangan di dalam rumah mempunyai nama ruangan berbeda-beda dan yang diambil dari nama bagian anggota tubuh perempuan, seperti penyusuan dan rahim.

"Karena begitu berharganya mama, maka kami warga Suku Lio mengangkat mama ke permukaan. Tanpa mama mungkin sunyi. Mama sangat mulia dalam ciptaan Tuhan, maka kita sangat menghormati mama. Dari mama, oleh mama, untuk mama. Jadi kita sebagai laki-laki tidak boleh kesana--kesini, harus setia. Dari rahim, oleh rahim, untuk rahim, tanpa Mama sunyi," jelasnya.

Ditambahkan Aloysius, kedudukan mama sangat tinggi dibandingkan dari semua yang ada di kehidupan manusia. "Mama sangat berharga, sangat mulia dalam ciptaan Tuhan," jelasnya sambil menyebutkan bahwa di Kampung Tradisional Wologai Tengah ini tercatat ada 33 kepala keluarga. "Sedangkan jumlah warganya mencapai 230-an jiwa."

 Filosofi Bentuk Bangunan
Mosalaki ria bewa atau juru bicara para tetua adat, di kampung ini jumlah keseluruhan rumah adat di kampung Wologai adalah 18 rumah adat, 5 rumah suku dan sebuah rumah besar. Jelasnya, rumah suku dipakai sebagai tempat penyimpanan benda pusaka atau peninggalan milik suku. Sedangkan rumah besar hanya ditempati saat berlangsung ritual adat.

“Bentuk atap rumah adat yang menjulang memiliki filosofi yang berhubungan dengan kewibawaan para ketua adatyang didalam struktur adat dianggap dan dipandang lebih tinggi dari masyarakat adat biasa,”

Mencermati rumah adat di Wologai seyogyanya mirip dengan rumah adat lainnya milik etnis Lio. Bagian kolong rumah (lewu) dahulunya dipergunakan untuk memelihara ternak seperti babi dan ayam. Ruang tengah digunakan sebagai tempat tinggal, sedangkan loteng difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang yang akan digunakan pada saat ritual adat.

Salah satu tokoh tetua adat Aloysius Leta jugs seorang ahli pemahat patung yang di pelataran rumah adat menjelaskan bahwa zaman dahulu leluhurnya adalah kelompok nomaden,hingga akhirnya memutuskan menetap di Wologai.

“Tiap suku mempunyai bentuk bangunan rumah adat yang sama namun memiliki ciri khas yang berbeda seperti ukiran yang ada pada tiang kayu bangunannya,” jelas Aloysius Leta. “Dahulu pun atap rumah tidak boleh dari ijuk tetapi alang-alang. Tapi sekarang banyak yang mempergunakan ijuk, sebab jika pakai alang-alang maksimal 3 tahun sekali atapnya harus diganti. Sementara kalau dengan ijuk bisa bertahan puluhan tahun.”


Rumah adat Wologai yang berbentuk kerucut dengan atap ilalang dan ijuk yang didirikan di atas pondasi batu ceper.


Menurut Aloysius Leta, untuk membangun rumah adat tidak boleh sembarang. Perlu didahului dengan ritual adat Naka Wisu. Yaitu aturan memotong pohon di hutan untuk digunakan sebagai tiang penyangga rumah. Ritualnya harus dilakukan pukul 12 malam, dengan terlebih dahulu perlumenyembelih seekor ayam. Demikian pula dengan keberadaan Kampung Adat Wologai, masyarakat masih mempertahankan bentuk kampung adat karena tunduk dan taat pada perintah leluhur yang berpesan untuk selalu menjaga tradisi yang telah dilakukan turun-temurun.

Dalam setahun jelas di Kampung Adat terdapat dua ritual besar yakni panen padi, jagung dan kacang-kacangan (Keti Uta) pada bulan April, dan tumbuk padi (Ta’u Nggua) pada bulan Agustus/September.

Puncak ritual Ta’u Nggu’aadalah Pire dimana selama 7 hari masyarakat tidak menjalankan aktivitas hariannya. “Selama masa ini seluruh masyarakat adat Wologai dilarang melakukan aktifitas pekerjaan seperti bertani, mengiris tuak dari pohon enau dan lainnya. Setelah melewati berbagai upacara, maka komunitas adat akan menggelar ritual Gawi atau menari bersama di atas pelataran di sekeliling Tubu Kangasebagai simbol mengucap kegembiraan dan kebersamaan.

Atraksi Budaya di Wologai
Mengunjungi kampung adat Wologai sangatlah tepat apabila bersamaan dengan ritual adat yang dilaksanakan masyarakat adat di kampung tersebut, yang biasanya dilaksanakan setiap bulan September.

Ritual Adat tersebut merupakan sebuah bentuk ucapan syukur kepada yang Maha Kuasa atas berhasilnya panen yang diperoleh masyarakat. Ritual adat tersebut biasanya juga diikuti oleh masyarakat dari beberapa kampung sekitar seperti kampung Ekoleta.

Hingga saat ini, ritual adat tersebut masih terus dilestarikan dan merupakan salah satu atraksi wisata yang sangat disukai oleh para wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Sedangkan pada lokasi ritual yang biasa disebut hanga, terdapat rumah-rumah adat yang masih asli dan mengelilingi hanga tersebut. Untuk ritual tersebut biasanya dilakukan di salah satu rumah adat yang biasanya ditempati oleh mosalaki puu (kepala suku utama).
Susu Nggua Nama Bapu, Sakiwa Sedeka Ma’e Duna Rewo, Susu Ma’e Du’u Nama  Dute.  Sebuah kalimat dalam bahasa Suku Lio yang sarat makna, menjadi sebuah pegangan bagi masyarakat dalam Komunitas Adat di Wologai. Kalimat yang dapat diartikan bahwa Pesta Adat -Nggua artinya Pesta dan Riaartinya Besar- setahun sekali wajib dilaksanakan dan jangan terputus  secara turun temurun.

Puncak ritual adat yang dilakukan selama dua minggu lebih ini adalah Gawi, tarian masal suku Lio termasuk Wologai dimulai pada malam tanggal 8 September hingga sore 9 September. Di Wologai, ritual gawi dilaksanakan di puncak bukit situs kampung bernama Kanga/Hanga tepat didepan sebuah bangunan khas Lio bernama Keda dan ditengahnya terdapat tubu musu (batu) dan pada bagian bawahnya dikelilingi oleh 7 buah rumah adat.
Beberapa hari sebelum gawi dilakukan pembersihan Kanga dilakukan oleh orang-orang tertentu. Inilah satu-satunya kesempatan untuk melihat melalui jendela bagian dalam bangunan yang dikeramatkan tempat menyimpan alat musik dan perlengkapan adat.

Gambaran Umum Wologai

Wologai, sebuah kampung kuno yang berada di Desa Wologai Tengah Kecamatan DetusokoKabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur. Juga merupakan salah satu dari beberapa suku di Lio Ende yang keturunannya berasal dari Gunung Lepembusu. Jarak tempuh ke Wologai dari kota Ende ± 42 KM, dengan waktu tempuh 1 – 1,5 jam. Dari Maumere jarak ± 100 KM  dengan waktu tempuh 3 – 4 jam. Dari jalan negara jurusan Ende – Maumere 1,5 KM.

Sebelum kampung Wologai di bangun beberapa ratus tahun yang  lalu, leluhurnya berpindah – pindah kampung mulai dari Lepembusu. Beberapa kampung sebelum Wologai menjadi kampung sebagai berikut:
1.      Wologai.
2.      Fua Deo
3.      Nuaria
4.      Ratemondo
5.      Otolowo
6.      Mageria
7.      Nuaone
8.      Lise Boko
9.      Lise Bewa
10.  Lise Laka
Ini adalah kampungnya leluhur WAWOWawo mempunyai beberapa keturunan diantaranya Laka WawoBhajo WawoJajo Wawo. Laka Wawo mewariskan keturunannya Wologai dan sekitarnya, Moni dan sekitarnya, Wewaria dan sekitarnya, dan lainnya. Bhajo Wawo mewariskan keturunannya Lise dan sekitarnya dan lainnya. Dari sinilah muncul kata “Lio Saligo” dimana mulai dikenal dengan “Lio”.
11.  Tubu Senga
12.  Wolo Wea
13.  Koba Besi
14.  Nira Neni
15.  Au Masi
16.  Mbotu Ndati (ndati ria ndati lo’o)
17.  Sepe Sawu
Ini awal mula Keda, Kanga, Sa’o
Nena lepa tau mbale keda, nena sa’o tau mbale maro.
18.  M’ta Manu
19.  Fau Waru
20.  Pu’u Re’a
21.  Kanga Ria
Dikampung ini terjadi pembagian wilayah dan berpencarnya sebagian anak Lepe.
22.  Lepembusu

Seremonial Adat Wologai
Orang Wologai masih sangat memegang teguh adat istiadatnya. Dibuktikan dengan masih utuhnya pelaksanaan seremonial atau ritual adatnya sampai sekarang. Seremonial adat itu diantaranya sbg berikut: 
1.      Tu nua
2.      Tu Tau,
3.      Tau Uma Ria,
4.      Keti Uta,
5.      Wari Pare,
6.      Dhu pare
7.      Sowo kibi
8.      Dhu kibi
9.      Nai keu
10.  Poto Keu Ka Uwi,
11.  Wa'u Tosa
12.  Ia keu
13.  Gawi sia
14.  Gawi leja,
15.  Nata keu kinga uwi kulu
16.  Mi are / Loka bara
17.  Nggera kibi
18.  Poke meko
19.  Po'o Te'u,
20.  S’te ngi’I te’u
21.  Poke Gaku,
22.  Pire ngi’I te’u
23.  Pire ta’I te’u
24.  Poto meta
25.  Poto nggala
26.  dan lain sebagainya

Semua seremonialnya dilaksanakan sesuai urutannya dan tidak boleh tidak dilaksanakan. Jika sampai tidak dilaksanakan maka diyakini akan berdampak negatif pada kehidupan sosial masyarakatnya (ana kalo fai walu).

Struktur Adat Wologai
Struktur adat Wologai dilihat dari kehidupan sehari – harinya dibagi dalam 3 (tiga) bagian besar yakni Mosalaki, ine ria fai ngga’e dan Ana kalo fai walu.

Mosalaki (pemegang kekuasaan adat) dibagi dalam beberapa bagian sesuai tugas dan fungsinya. Pembagian ini terurai sebagai berikut :
1.      Mosalaki pu’u,
2.      Mosalaki ria bewa,
3.      Mosalaki pu maru
4.      Mosalaki kago kao
5.      Mosalaki pati tali boka bela
6.      Mosalaki paki te’do
7.      Mosalaki sa’o le’pa
8.      Mosalaki koe kolu
9.      Mosalaki kaka longgo
10.  Mosalaki boge geto

Yang bisa jadi lakimosa/mosalaki adalah dilihat dari garis keturunannya. Bisa dari garis keturunan mama (matrilinear) dan bisa dari garis keturunan bapak (patrilinear). Yang perlu digaris bawahi adalah setiap orang yang mau diangkat jadi mosalaki, tahap awalnya adalah melalui musyawarah dalam keluarga ditentukan dengan ritual “bui feo so bhoka au” (membakar buah kemiri dan membakar bambu aur yang masih musah). Feo sebanyak 3 buah dan bambu aur mudah antara ruasnya tiga potong didoakandan dibakar dalam rumah adat. Penentuannya dari para calon yang diangkat, dengan cara melihat siapa yang buah kemiri bunyi ledakannya bagus tiga kali berturut - turut, dan melihat pecahan bambu aur muda yang sejalur antara ruas ke ruas dari tiga potong bambu aur mudah tadi. Bila pecahnya tidak bagus maka orang tersebut tidak bisa dinobatkan menjadi mosalaki.
Ine ria fai ngga’e (nyonya besar ). Bertugas melaksanakan seremonial dalam rumah adat seperti “rase pare”, s’re are tana nasu uta watu, dan lainnya. Ine ria fai ngga’e adalah tunggal. Sedangkan di beberapa rumah adat lainnya hanya disebut dengan “ata ine” (mama). Proses menjadi ata ine, sama dengan proses penobatan mosalaki
Ana kalo fai walu (masyarakat) adalah anak dari ine ria fai ngga’e, ata ine dan para mosalaki.
Komponen Adat Wologai

Koomponen utama adalah SUSUNAN LIMA UTAMA yang terdiri dari :
1.      Tubu ;
·               Lema sa toko lase.
·               Tubu uju, “tubu tau mula jumu”.
2.      Lodo nda;
·         wiwi sa bega Gewo,
·         lodo nda ngara da gheta liru mera,
·         lodo nda wa sea ae mesa,
3.      Kanga ;
·         Kanga sa vi’I li’e,
·         kuni naka,
·         kambu,
·         leka musu susu leka ola ngate ngalu
4.      Keda ;
Keda tau soso molo sasa masa, keda artinya juga kumpulan semua makluk hidup kecuali ata fai, ata itu yang boleh hanya ine ria fai ngga’e. keda juga penyelamat.

Lamba Bapu ;

Beberapa fngsi Lamba bapu :
·         Pai nitu pa’I no mae ata mata nosi mbe’o so mo’o susu nggua nama bapu.
·         Lamba tana watu, iwa so dogo dema menga lu’u we deka lima rua. Li ghe to’o ulu tana, gheta leka ulu tana, tana taki tora, ghale leka bita feku felu ndare mele m’re.

Keda mboko mbale ro baru latu no lamba bapu.
Asal mula Lamba Bapu ; suatu saat waktu tau nggua, so pai ria niu bewa leka ata mata so pa’a loka tetap po terjadi sala leko, sehingga abe sepakat untuk dogo si leka longgo baka si laka sa,
Kedanya melambangkan lakinya dan lamba bapu istrinya. Jadi Keda dengan Lamba Bapu adalah suami istri.

5.      Sa’O ;
·         Ka tau soro mara sama, s’pa tau ndari nde’o bela,
·         Tau teo teo nggala, sobe, bhoku, mbola, watu pa’a
·         Tau teo tenda teo,
·         Tau pije wula leja

Sa’o, di Wologai ada beberapa pembagian sa’o :
a.       Sa’o keu kinga uwi kulu
1.      Sa’o bhisu koja (sa’o ria)
2.      Sa’o Sokoria
3.      Sa’o rini
4.      Sa’o Wolomena
5.      Sa’o Nua Ro’a
6.      Sa’o Wologhale

b.      Sa’o nai pare,
1.      Sa’o langga rapa, sato jopu
2.      Sa’o ana lamba
3.      Sa’o ana lopi / sa’o benga
4.      Sa’o ndewi
5.      Sa’o bhena
6.      Sa’o nua guta
7.      Sa’o panggo
8.      Sa’o wara lamba
9.      Sa’o labo
10.  Lewa bewa
Sa’o diatas merupakan satu kesatuan dengan sa’o bhisu koja.
“Nge leka tuka ine beka leka kambu ema”.
c.       Sa’o lainnya
1.      Sa’o ame naka ine naju
2.      Lewa kamba
3.      Bale Ndewi Boko
4.      Bale Mite Lamba.


Wilayah Adat Wologai
Tempat – tempat pelaksanaan seremonial adat wologai
Kesenian Adat Woologai
Sastra Adat Wologai
Para Pejuang Wologai
Tokoh Legendaris Wologai
Ketrampilan Adat Wologai
Hukum Adat Wologai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Bende-ra Nusantara

Suwung Hakekat Rahasia Leluhur Jawa

Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa

Tipologi Rumah Tradisional Jawa