FALSAFAH HIDUP KEJAWEN
Dasar-dasar Falsafah Hidup
Kejawen: Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Bèrbudi Bawaleksana, Ngudi
Sejatining Becik
Ketuhanan
1. Pangeran iku
siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi
sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad
raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)
2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng
siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada,
namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)
MENELISIK
RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN
Dalam
literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam
kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa
dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam
kejawen, karena bukan lah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah
wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual”
dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan
kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji,
laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku
semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan
makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra
sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku
semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan
persepsi ini salah besar. Menurut para pengamat, kaum akademisi dan
budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan
secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya. Semoga hal itu
bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya
Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan
supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma
asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran
dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan
kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas
dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan
wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen
sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen
sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar
menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di
samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh
namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan
menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi.
MELURUSKAN MAKNA
Mantra
tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan
YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang
bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa.
Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi
memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan
kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti
kaidah “memayu hayuning bawana”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor
adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia.
Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari
unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal
dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis
sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari
unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai
perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.
Aura
magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni
gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi
yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama;
bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan,
kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih
(meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya
harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan
manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat
juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan
transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia
dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan
jagad besar alam semesta.
PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN &
HARMONISASI
Sesaji
atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang
dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan).
Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji
ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek
menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari
benernya sendiri). Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi,
melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan
antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling
berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan
kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal
terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran
manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling
mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling
mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari
cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi
digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih
hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.
HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN
WAHYU TUHAN
Dalam
konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung
pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga
tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya
dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa
dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain
yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku
batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang
Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai
pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam
bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang
sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat
universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan
pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki.
Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha
Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku,
ras, golongan, atau bangsa tertentu.
Mekanisme kehidupan di alam semesta
adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang
mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan
(sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah
menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH
terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak
bernyawa.
WAHYU PURBA
Anugrah
tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata
Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu
Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya
dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu
pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam
kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua
dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan
alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman,
kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan
ditegakkan dengan baik dan benar.
Walaupun
manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran
Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan
kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan
kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan
pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan
dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya
(Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara
Ayodya.
WAHYU DYATMIKA
Barang
siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi
antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan
“jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika.
Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu
Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya
cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam
terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal
masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.
HUBUNGAN
MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN
Mantra adalah Teknologi Kuno
Perlu
kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis
SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi
spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam.
Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku
prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan
cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra
(baca; senjata) yakni;
1. Khusus menurut fungsinya; hanya
dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan
perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk
penyembuhan.
2. Mantra khusus menurut sifatnya;
dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika
digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat
disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling
sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun.
Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan
keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan
sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai
orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki
konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung
maupun kelak setelah ajal.
Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah
Kaprah
Terdapat
pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap
sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat
negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet,
itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode
isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan”
atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya
luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah
substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha
mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat
diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi
primitif.
Hamemayu Hayuning Bawono & RAT,
serta Pangruwating Diyu
Di
atas telah kami singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan
harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan
alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu
bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya
siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk
hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada.
Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam
mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan
hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama
bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi
alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden.
Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku
spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna
di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating
diyu” (“Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah
Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”.
Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan
diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono). Dalam rangka panembahan
pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning
Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan
kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata
lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil
(pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.
Bentuk
panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat)
dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan
berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg,
suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai
upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan
seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat
tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk
mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra
yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan
(harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya
seisinya. Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh
dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi
doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.
Sayang sekali, zaman semakin berubah,
perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah
banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem
jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif,
yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan
metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis !
Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg,
suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya
yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar
menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom),
pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku
dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan
lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.
Itulah,
wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban.
Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum)
kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip
keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan
saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak
disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi,
distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka
dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama
tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan
hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina).
Frequently
Asked Questions (FAQ)…??!!
Lantas…di mana sih peran agama (ku), peran
ajaran, budi daya, katanya kita berada di dalam bangsa yang agamis, budaya yang
luhur, penuh ajaran spiritual, peran ilmu pengetahuan, teknologi tinggi.
Cukupkah aku hanya berdoa dan berzikir di mulut saja, sambil berharap-harap
Tuhan bersedia merubah nasib bangsa ini ??? Atau jangan-jangan aku terlalu
sibuk saban hari berpamrih menghitung-hitung pahala ??? MASIH KURANGKAH TUHAN
MEMBERI ANUGRAH kepada ku ??? Kapan aku mau bersyukur ? Teramat pentingkah aku
bersukur HANYA di mulut saja dengan ucapan 100 kali, 1000 kali, bahkan
1.000.000 kali ? Atau aku mau enaknya saja tanpa susah-susah mewujudkan syukur
dalam perbuatan nyata ? NURANI ku sendiri yang tahu jawabnya.
Rahayu
sabdalangit..
Komentar
Posting Komentar