FILSAFAT KEJAWEN
Puncak
Ilmu Kejawen

Ilmu
“Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen.
“Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra
sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau
mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang
kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang
yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari
“Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat =
ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian.
Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau
lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus
dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari
kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi
kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran
kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan
mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang
menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau
berkorban demi kepentingan rakyat.
Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya
Menurut para ahli sejarah, kalimat
“Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi
baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam
tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra
atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada
halaman 26;
Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya
wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra
Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan
oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya
karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa
dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan
berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka.
Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala
sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya,
sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu
juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan
juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti
Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya
akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau
manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan
para Dewa yang mulia…
Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang
mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat
malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam
lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;
Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak
bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi
yang syaratnya sangat berat, yakni;
- Bisa
mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang
sangat sakti.
- Bisa
menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”
Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan
maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi
dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk
diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.
Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada
Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.
“Jroning peteng kang ono mung lali,
jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.
Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat
menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah
anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;
- Dosomuko
- Kumbokarno
- Sarpokenoko
- Gunawan
Wibisono
Setelah
anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus
dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat
gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku
Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya
Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa
untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat,
Hakekat, Makrifat.
Lakon
ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus
melalui tahap atau tataran-tataran yakni;
1. Syariat; dalam
falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.
2. Tarikat; dalam
falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.
3. Hakikat; dimaknai
sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).
4. Makrifat; merupakan
tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).
Pun
diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk
Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta
maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus
melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan)
untuk mendapatkan “ngelmu”.
Bima
yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima
ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam
tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh
kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak
mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan
dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya,
tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.
Atas
petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.
Dan tampaklah laut luas tanpa tepi,
langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah
dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci,
memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
Ada
empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih.
Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu
namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu,
maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan
hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu
jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu,
sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang
hati.
Yang
hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi
tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan
keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang
kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang
suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam,
merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan
Suksma Mulia.
Lalu
Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang
dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air
suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar
bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak
berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada
orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat,
adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira
dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak
ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang
tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi
oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.
Kehidupan
Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut
lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui,
kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.
Tentang
keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami
hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam
pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri,
menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.
Bila
seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti
harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat
menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah
(pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan
dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna
illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak
untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu
untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.
Uraian
tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat
Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam
istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati
prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra
Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati
prasida.
Bagi
mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat
memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau
berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan
memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama
dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat
dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang
Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan
Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci,
pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu
pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Itulah
inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai
Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau
tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang
sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari
pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.
Dalam
dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”
dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang
menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;
Begawan Wisrawa menjadi lambang guru
yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya
sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh
kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang
dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan
oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua
orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.
- Dasamuka
(raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai
simbol dari nafsu amarah.
- Kumbakarna
(raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun
memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak
kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno
menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
- Sarpokenoko
(raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang
enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa.
Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
- Gunawan
Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat
yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan
saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk
membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.
Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah
raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk
yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena
memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama
Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi,
istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau
menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara
Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu
yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir
sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti
keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga
menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat
tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah
raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.
Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol
sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah
menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia
ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan.
Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna.
Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya.
Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil
sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun
manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan
dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu
menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).
Namun ilmu ini oleh para dewata hanya
dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum
cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat
Sastrajendrahayuningrat Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.
Sifat Manusia Terpilih
Sebelum memutuskan siapa manusia yang
berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara
Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau
boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita
Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan
terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya.
Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.
Seolah menegur para dewata sang Betara
Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi
takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada
manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada
Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka
menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih
mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke
mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan
Wisrawa.
“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah
bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk
diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.
Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak
bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat
manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa,
Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol
atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat,
nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga
bermanfaat.
Semoga para pembaca yang budiman
diantara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya
hidup.
Sabdalangit
Komentar
Posting Komentar