UNSUR JIWA, ROH, JASAD
UNSUR JIWA, ROH, JASAD
Apa
sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu
kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman
pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk
kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang
bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak
orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling
tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad.
Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu
berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag
(fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan
menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana
yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri
kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga
kita.
Sukma-Raga
Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan
rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan
IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan
data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat
keras atau hardware. Adapun hardware di sini
berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh
manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat
elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang
terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak
akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang
dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation)
dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual
mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.
Sukma-Jiwa
Namun demikian, hardware otak tidak akan
mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa
merupakan jembatan penghubung antara sukma
dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa
universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa
sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal
ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya
ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas
jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa
universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.
Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki
kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang
dikirim oleh sukma kepada raga, tergantung program atau perangkat
lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program
canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam
bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.
Jiwa-Raga
Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa
mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi
tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual
mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random
acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih
mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan
oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM”
otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic.
Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang
tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak
“kesalahan” bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum
cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki
rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus
yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala
sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau
prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti
panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha
adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan.
Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga
disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam
kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun
organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak
akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam kisah terdahulu,
silahkan para pembaca yang budiman membuka posting berjudul KUNCI
MERUBAH KODRAT. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah
terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape,
sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu
tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur
gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana
raga.

Komentar
Posting Komentar